BONTANG – Pengelolaan Hotel Oak Tree mendapat tawaran baru. Archipelago International, sebuah perusahaan terkemuka di Indonesia yang menawarkan manajemen hotel, condotel, resort, apartement, dan villa, siap mengambil alih hotel yang berlokasi Jalan Arif Rahman Hakim Kilometer 3, Belimbing tersebut.
Hal ini diketahui, setelah Direktur Utama Perusahaan Daerah Aneka Usaha dan Jasa (Perusda AUJ), M Zuchli Imran mengadakan pertemuan dengan pemilik perusahaan yang juga menaungi Hotel Aston tersebut. “Kebetulan teman saya pemilik dari Aston, saya bilang di Bontang ada Hotel Oak Three,” kata Imran saat diundang menghadiri rapat dengar pendapat dengan Komisi II DPRD, Senin (19/3) lalu.
Imran mengaku belum ada kesepakatan dari hasil pembicaraan tersebut. Nantinya jika disetujui, maka pimpinan perusahaan akan diperkenalkan dengan Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni.
Rencananya, dalam waktu dekat manajemen perusahaan akan melakukan pemetaan terlebih dahulu. Terkait permasalahan seputar pengelolaan hotel. “Mereka maping (memetakan, Red.) dulu, apa sih kendalanya, kenapa orang tidak mau datang,” paparnya.
Sementara itu, Sekretaris Komisi II DPRD Suwardi mendukung akuisisi pengelolaan Hotel Oak Three. Dengan kemasan yang baru, tentunya akan menambah jumlah pengunjung. Sehingga multiplier effect bagi masyarakat dapat terasakan.
“Pengembangan usaha kami sepakat, kalau Perusda AUJ bisa menarik investor dalam hal ini Aston untuk mengelola, tentunya rekan-rekan di Perusda AUJ harus berhitung sehingga dapat keuntungan,” kata Suwardi.
Dukungan serupa juga diberikan oleh Wakil Ketua Komisi II DPRD, Arif. Ia mempersilakan bila ada kerja sama antara Perusda AUJ dengan perusahaan yang akan melakukan pengambilalihan. “Kalau Hotel Oak Three mau dikelola silakan saja, itu justru lebih bagus,” kata Arif.
Akan tetapi, politisi Hanura ini meminta perusahaan tersebut melakukan presentasi dengan DPRD. Mengingat legislator juga memiliki peranan dalam hal pengawasan. “Karena Perusda AUJ merupakan mitra kami, jadi harusnya presentasi dulu ke DPRD. Apa visi-misinya, dan berapa pembagiannya,” tuturnya.
Sebelumnya ada wacana serupa dari PT Timur Borneo Indonesia (TBI). Akan tetapi tidak ada tindak lanjut setelah melakukan pemaparan konsep dengan DPRD, enam bulan yang lalu.
“Kemudian Equator juga mau, tetapi saya khawatir karena mereka mengelola hotel sendiri tidak jalan, apalagi mengelola Oak Three,” ucapnya.
Menurutnya, nama Aston lebih dikenal banyak orang. Mengingat, bangunan megah tersebut telah berdiri di sekitar 40 kota di Indonesia. (*/ak)








