ODHA Baru Bermunculan di 2016
BONTANG – Anak Memerlukan Perlindungan Khusus (AMPK) di Bontang jumlahnya semakin meningkat dari tahun 2015 lalu. Tak hanya itu, Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) juga mengalami peningkatan di 2016. Padahal, tahun 2015 tercatat tidak ada ODHA baru.
Data hasil rekapan Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3) Bontang merislis, tahun 2015, AMPK hanya sebanyak 10 orang, sementara di tahun 2016 melonjak menjadi 39 anak. Sedangkan ODHA dari tahun 2015 tak tercatat adanya data baru, sementara di tahun 2016 ada 4 ODHA baru. (Selengkapnya lihat info grafis).
Manager Khusus LK3 Bontang Suratmi mengatakan, untuk AMPK yang masuk kategorinya yakni anak-anak yang terinfeksi HIV/AIDS, anak lahir dari perkosaan, anak yatim piatu, korban perdagangan, juga anak tereksploitasi. “Mulai usia 6 tahun sampai 18 tahun, banyak juga anak hasil nikah siri yang ditinggal bapaknya tanpa pertanggungjawaban,” jelas Suratmi.
Bantuan yang LK3 Bontang berikan bagi mereka para AMPK, dijelaskan Suratmi yakni tim penjangkau membantu dalam hal administrasi. Pasalnya, AMPK banyak yang tidak masuk dalam Kartu Keluarga (KK), alasannya karena anak hasil nikah siri atau korban perkosaan. Sehingga LK3 mencoba membuatkan Akta Kelahiran menjadi anak ibu tanpa nama ayah. “Setelah ada akta kelahiran, bisa masuk KK, barulah dibuatkan Jamkesda,” ujarnya.
Dengan masuknya nama anak di KK, maka AMPK bisa bersekolah di sekolah negeri yang sejatinya gratis biaya. Sementara untuk biaya hidupnya, Suratmi menyatakan mereka ada yang diberi bantuan dari Kementerian Sosial (Kemensos), ada juga dari Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Pemberdayaan Masyarakat Bontang berupa biaya dan sarana sekolah, makanan, sandang juga pempers bagi anak balita.
Adanya peningkatan jumlah klien LK3 Bontang secara keseluruhan pun, membuktikan bahwa kehadiran negara ditengah masyarakat dibutuhkan. “Ini juga berarti LK3 mulai tersosialisasi ke target sasaran,” ungkap Suratmi.
Yang ditangai LK3 Bontang, meupakan 26 jenis Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). Sehingga peningkatan ini bukan berarti kemiskinan belum berkurang, walaupun memang diakui Suratmi kemiskinan merupakan ibu dari segala permasalahan. “Ibarat irigasi selama ini tidak tahu ada saluran, nah, sekarang mereka mendapat saluran mengadu untuk menyelesaikan masalah keluarga yang mereka alami,” ujarnya. (mga)






