Kisah Inspiratif Warga Bontang: Aisyah Putri Al Khonsa (205)
Walau masih belia, namun kemampuan Aisyah Putri Al Khonsa dalam menghafalkan Alquran tak perlu diragukan. Di usianya yang masih tujuh tahun saat ini, tercatat sudah 15 juz yang dia hafal.
Bambang, Bontang
Suasana panggung Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke XIII tingkat Kota Bontang tiba-tiba saja terenyuh saat anak kelahiran Palembang, 19 Februari 2010 ini tampil memukau lewat kemampuannya yang berhasil menjawab dan meneruskan potongan ayat yang dilemparkan oleh dewan juri.
Meski baru menginjak usia tujuh tahun, namun anak perempuan dari pasangan Antoni- Ummu Khonsa ini sudah bisa menghafal setengah dari jumlah juz yang ada di dalam Alquran. Bacaan tajwid dan pelafalan makhroj hurufnya juga sudah sangat baik, bahkan nyaris tidak ada yang salah.
Walau masih sangat belia, namun tak pernah menyurutkan semangat Aisyah — penggilan akrabnya — untuk bersaing dengan peserta lainnya yang usianya jauh di atasnya. Alhasil berkat kerja kerasnya serta bimbingan dari kedua orangtua dan gurunya, akhirnya Aisyah berhasil meraih juara I untuk cabang hifzil quran golongan 10 juz.
Kepada Bontang Post, ayah Aisyah, Antony menceritakan kebiasaan dan tips yang dilakukannya sehingga anak pertamanya itu bisa menjadi hafidzoh sejak usia dini.
Kata dia, Aisyah sudah mulai dikenalkan dunia hafalan Alquran sejak umur 4 tahun 10 bulan. Setiap malamnya, abi dan ummi (baca: Ayah-Ibu) nya selalu membimbing hafalannya sebanyak 7-8 baris yang ada di halaman A-quran. Subuh harinya, hafalan yang sudah dihafalkannya di malam harinya tadi kemudian diulang kembali.
“Setiap Senin-Jumat sepulang sekolah, kami juga selalu murojaah (mengulang, Red.) hafalannya. Meski begitu, waktu untuk bermain juga tetap ada. Hanya saja memang kami batasi. Begitu juga tontonannya,” jelasnya.
Layaknya anak pada umumnya, semangat Aisyah untuk menghafal juga kerap kali naik-turun. Untuk menjaganya, beberapa cara pun dilakukan oleh dia dan istrinya. Seperti memasukkannya ke lingkungan para penghafal Al-quran, memberikan tontonan-tontonan hafalan Alquran oleh syekh-syekh yang ada di Arab, menceritakan kisah sukses penghafal-penghafal cilik seperti Musa, hingga mengiming-imingi hadiah jika bisa menghafal Al-quran.
“Saya masukkan dia di Baitul Quran Pisangan karena di sana banyak teman-temannya yang juga penghafal quran. Untuk belajar makhorijul huruf nya, saat TK dulu saya masukkan di Ihyaussunnah pisangan,” ungkapnya.
Kata Antony, kini kecintaan anaknya terhadap hafalan Alquran pun juga sangat tinggi. Hal ini dibuktikan saat Aisyah sempat sakit beberapa waktu lalu dan harus dirawat di rumah sakit.
Kepada Abi dan Umminya, dirinya mengatakan takut jika hafalannya hilang karena tidak diulang lantaran kondisinya yang sedang terbaring lemas. Hebatnya lagi, dengan menghafal, malah tidak menurunkan kemampuannya dalam bidang pelajaran akademiknya. Justru di sekolah nilai-nilai pelajarannya juga selalu baik. Ke depan kata Antony, Aisyah juga bercita-cita bisa bisa menghafalkan 30 juz Alquran dengan target usia di bawah 10 tahun.
“Kalau nanti bisa hafal 30 juz, dia minta hadiah umroh karena dia ingin sekali lihat kakbah. Jadi insyaAllah kalau nanti kami ada rezeki, semoga saja bisa terwujud,” harapnya. (bersambung)
Tentang Aisyah
Nama : Aisyah Putri Al Khonsa
TTL : Palembang, 19 Februari 2010
Ayah : Antony Abu Khonsa
Ibu : Ummu Khonsa







