• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Feature

Syarifuddin Rusli, Anak Pekerja Bengkel yang Jadi Eselon II (1); Terapkan Disiplin untuk Ungkapkan Rasa Syukur

by BontangPost
4 Mei 2017, 12:45
in Feature
Reading Time: 4 mins read
0
Syarifuddin Rusli (LUKMAN/METRO SAMARINDA)

Syarifuddin Rusli (LUKMAN/METRO SAMARINDA)

Share on FacebookShare on Twitter

Disiplin menjadi kunci utama bagi Syarifuddin dalam menjalani kehidupan yang penuh tantangan. Sekretaris Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kaltim ini telah membuktikan bahwa dengan disiplin, dia bisa mencapai posisinya saat ini sebagai pejabat eselon II yang awalnya tiada pernah disangka.

LUKMAN MAULANA, Samarinda

Berasal dari keluarga kurang mampu membuat Syarifuddin Rusli sudah akrab dengan kerja keras sejak masa kanak-kanak. Pria yang akrab dipanggil Ambi ini mengisahkan, sejak di bangku sekolah dasar, dia sudah ikut membantu orang tuanya mencari nafkah untuk bisa bertahan hidup. Tepatnya sejak duduk di kelas V SD, Ambi sudah bekerja menjadi pelayan di sebuah toko kelontong.

“Sejak itu saya sudah membiayai sekolah saya sendiri. Bahkan biaya untuk saya khitan, dibantu dari pemilik toko tempat saya bekerja,” kenang Ambi saat ditemui Metro Samarinda (Kaltim Post Group), Rabu (3/5) kemarin.

Kegiatan Ambi dalam mencari uang terus dilakoninya hingga di bangku sekolah menengah. Saat duduk di kelas 2 Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP, setara SMP), Ambi beralih kerja dengan berjualan es di pelabuhan. Hal ini dilakukannya hingga duduk di bangku kelas 2 SMEA. Dia juga membantu sang ibu membuat pisang goreng untuk tambahan penghasilan keluarga.

“Yang menjual tetap ibu saya. Saya membantu dengan menumbuk beras, menjadikannya tepung untuk pisang goreng,” urainya.

Walau Ambi sudah bisa mencari uang sendiri, namun sang ayah selalu menekankan padanya untuk tetap bersekolah. Bahkan ayahnya sempat tidak setuju ketika mengetahui Ambi berjualan di pelabuhan. Karena mengkhawatirkan pendidikan Ambi bisa terganggu. Rupanya meski hanya berprofesi sebagai tukang bubut di bengkel, ayah Ambi begitu memedulikan pendidikan anak-anaknya.

Baca Juga:  Bacaleg Samarinda Banyak BMS 

“Ayah saya orangnya disiplin. Dia mengajarkan kepada saya dan saudara-saudara saya untuk selalu disiplin dalam belajar dan bekerja. Kata beliau, walaupun hidup tidak punya uang, harus tetap sekolah dan disiplin. Ayah bilang akan memukuli saya kalau saya tidak sekolah,” beber anak kelima dari 17 bersaudara ini.

Nasihat sang ayah inilah yang terus dipegang Ambi dan menjadi motivasi baginya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Makanya selepas lulus SMEA, Ambi mengikuti ujian masuk Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Samarinda. Karena sebagai sekolah ikatan dinas, APDN memungkinkannya kuliah tanpa mengeluarkan biaya.

“Karena kalau kuliah di universitas lain waktu itu saya tidak mampu, tidak ada biaya. Kata ayah, kalau bisa kuliah yang dibiayai pemerintah,” sebut Ambi.

Namun waktu itu dia tidak berharap banyak bisa diterima masuk di APDN. Karena menurutnya, yang bisa kuliah di APDN hanya anak-anak dengan tingkat kecerdasan tinggi atau mereka yang memiliki koneksi dengan pejabat. Sementara Ambi kala itu tidak memiliki keduanya. Akan tetapi dia meyakini kalau dugaannya itu salah. Terbukti, di luar dugaan Ambi berhasil lolos dalam ujian masuk APDN tersebut.

“Saya tidak percaya bisa diterima di APDN. Rasanya waktu itu kaki tidak menginjak tanah. Saking tidak percayanya, saya sampai 10 kali melihat papan pengumuman yang menyatakan saya lulus. Saya lihat terus sampai malam,” ungkapnya.

Baca Juga:  Replik Jaksa dalam Kasus Pelepasan Aset PT PWU, Berputar-putar, Abaikan Fakta Sidang

Rupanya Tuhan membuktikan bahwa dugaan Ambi sebelumnya tentang APDN salah. Ambi malah berhasil lolos menyingkirkan ratusan lebih pendaftar kala itu. Kebahagiaan pun perlahan menghampiri Ambi karena dia tidak perlu lagi memikirkan biaya untuk kuliah. Malahan dia mendapat bayaran selama menuntut ilmu di APDN.

“Karena ikatan dinas, per bulan saya mendapat uang Rp 22 ribu. Waktu itu tahun 1979,” tambah ayah tiga anak ini.

Selain di APDN, sebenarnya Ambi juga mendapat ajakan dari temannya untuk bergabung di kepolisian. Apalagi waktu itu kebutuhan akan polisi terbilang banyak. Namun Ambi tidak menerima ajakan tersebut dan memilih untuk mengikuti pendidikan di APDN.

Setelah tiga tahun menempuh pendidikan, Ambi lulus dari APDN dan langsung bekerja di pemerintahan. Dia pertama kali bekerja sebagai aparat pemerintah di tahun 1982 sebagai staf di Biro Sarana Ekonomi di Kantor Gubernur Kaltim. Namun taraf kehidupannya kala itu belum membaik. Dengan honor Rp 30 ribu per bulan, Ambi harus pintar-pintar dalam mengatur keuangan.

“Saya waktu itu hanya punya baju putih dua lembar dan celana dua lembar yang saya gunakan untuk bekerja. Untuk menghemat, saya berjalan kaki dari Jalan Jelawat hingga ke kantor biro yang waktu itu berada di Jalan Basuki Rahmat,” terangnya.

Meski hidup dalam keterbatasan, kinerja Ambi tetap berjalan maksimal. Pelajaran disiplin dari sang ayah dan ketika kuliah di APDN dibawanya hingga ke dunia kerja. Makanya Ambi selalu datang paling awal berada di kantornya. Sejak pagi pukul 07.00 Wita, Ambi sudah tiba di kantor bahkan mendahului penjaga kantor. Sehingga dia sempat diberi julukan “wakar” oleh rekan-rekannya.

Baca Juga:  Cerita Onggy Hianata Keliling Dunia Berbagi Motivasi 

“Saya digelari wakar karena saya yang duluan membuka pagar ketimbang penjaga kantor. Sejak tahun 1982 sampai sekarang, saya tidak pernah terlambat datang ke kantor. Kecuali saya sedang sakit atau sedang dinas keluar kota,” kisah Ambi.

Suami dari Lili Suprianiwati ini meyakini benar bahwa kedisiplinan merupakan kunci menuju kesuksesan. Selain itu, dia menerapkan disiplin dalam bekerja sebagai bentuk syukur pada Tuhan Yang Maha Esa. Yaitu wujud syukur atas rahmat yang diberikan Tuhan sehingga Ambi bisa mendapatkan pekerjaan yang baik.

“Ungkapan syukur ini dengan bekerja sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab. Bekerja sesuai peraturan yang ada,” kata dia.

Karena patuh pada peraturan inilah, membuatnya tidak disenangi pimpinannya. Ambi sempat beberapa kali dipindahkan dari satu instansi ke instansi lainnya di Pemprov Kaltim. Dia mencatat sudah tiga kali menjabat kepala sub bagian dan tujuh kali menjabat kepala bagian di instansi yang berbeda. Hingga sejak 2013, dia naik jabatan eselon II dan dipercaya menjadi sekretaris di KPU Kaltim.

“Saya selalu berusaha taat pada peraturan. Dianggap nyeleneh atau dicela bukan masalah buat saya. Saya akan menolak bila diminta melanggar peraturan oleh pimpinan saya. Tidak serta merta menolak, saya berikan alternatif lain yang bisa diambil. Bukan saya membangkang, tapi saya berhati-hati. Jangan dipaksakan melanggar aturan,” papar Ambi yang Juli mendatang genap berusia 58 tahun ini. (bersambung)

Tags: kisah inspiratifMetro Samarinda
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Hasdam Bayangi Awang

Next Post

PAN Tutup Pendaftaran

Related Posts

Kisah Hainun dan Gaharu “Ajaib” dari Bontang; Dulu Hanya Ilalang, Kini Jadi Produk Ekspor
Feature

Kisah Hainun dan Gaharu “Ajaib” dari Bontang; Dulu Hanya Ilalang, Kini Jadi Produk Ekspor

13 Juli 2025, 12:07
Kisah Inspiratif Kakek Penjual Sapu Lidi: Selama Kuat, Bekerjalah
Ragam

Kisah Inspiratif Kakek Penjual Sapu Lidi: Selama Kuat, Bekerjalah

18 Desember 2020, 09:19
Di Palu, Kebaikan Menular dari Secangkir Kopi Gratis
Feature

Di Palu, Kebaikan Menular dari Secangkir Kopi Gratis

11 Januari 2019, 15:40
Kontrak LNG Habis, Isran: Tak Masalah
Kaltim

Kontrak LNG Habis, Isran: Tak Masalah

23 Desember 2018, 16:30
Bisnis Hotel Diprediksi Terus Tumbuh 
Kaltim

Bisnis Hotel Diprediksi Terus Tumbuh 

22 Desember 2018, 16:30
Pemprov Ingin Pembangunan Masjid Tetap Dilanjutkan, Kinibalu Bakal Dicarikan Pengganti 
Kaltim

Pekerja Berhak Atas Jaminan Sosial

22 Desember 2018, 16:10

Terpopuler

  • Bontang Berharap Masuk Daftar Penerima Tambahan Dana Rp20,5 Triliun dari Pusat

    Bontang Berharap Masuk Daftar Penerima Tambahan Dana Rp20,5 Triliun dari Pusat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terbukti Cabutan dari Luar Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ragam Alasan Masyarakat Pilih Golput

    2 shares
    Share 2 Tweet 0
  • Berpura-pura Belanja, Komplotan Pencuri Gasak Tas Berisi Emas 200 Gram dan Rp30 Juta di Bontang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bontang Absen di Singa Cup

    1 shares
    Share 1 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.