SAMARINDA – Rencana relokasi warga yang tinggal di sepanjang bantaran sungai Karang Mumus menjadi target besar Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda di tahun ini. Selain sebagai upaya menanggulangi banjir musiman di Kota Tepian, relokasi penting dilakukan untuk mewujudkan tata kota yang bersih dan rapi.
Rencananya, sepanjang bantaran sungai akan dibangun turap oleh pemerintah. Dengan demikian, masalah banjir yang kerap menghantui masyarakat, sedikit tidaknya sudah mulai dapat ditanggulangi.
Kadis Perumahan dan Permukiman (Perkim) Samarinda, Dadang Erlangga mengatakan, pemkot sudah menyiapkan 84 unit rumah di Kelurahan Handil Kopi untuk menampung warga yang akan direlokasi.
Rumah-rumah tersebut telah dibangun pemerintah sejak 2015 lalu. Akan tetapi rumah-rumah itu belum dapat ditempati lantaran masih terkendala kesiapan air dan listrik. Karenanya, proses relokasi warga belum dapat dipastikan.
“Tapi yang jelas, kalau air dan listrik sudah siap, maka insya allah warga bisa langsung kami pindahkan ke rumah-rumah itu. Doakan aja semoga cepat rampung,” ujar Dadang, Selasa (2/1) kemarin.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Samarinda, Asli Nuryadin menyatakan, rencana penurapan bantaran sungai Karang Mumus sudah berlangsung lama. Bahkan, relokasi warga yang tinggal di bantaran sungai tersebut masuk dalam program prioritas pemerintah.
Sedangkan rumah yang sudah dibangun, sambungnya, dianggarkan secara bertahap sejak 2015 sampai 2018. Rencananya, rumah-rumah tersebut akan ditempati tahun ini oleh sebagian warga Karang Mumus. “Relokasi akan dilakukan secara bertahap. Tidak bisa semua langsung dipindah,” ujarnya.
Berdasarkan kajian tim ahli, pemindahan mesti dilakukan agar bantaran sungai steril dari pemukiman warga. Setelah itu, pemkot bakal membangun turap untuk menahan air sungai pada saat pasang. Pasalnya, salah satu sebab banjir yang terjadi di Samarinda karena meluapnya air di Karang Mumus.
“Pengendalian banjir dilakukan supaya Karang Mumus steril dan rapi. Agar bisa membangun turap, ya orangnya harus dipindah,” tegasnya.
Nuryadin berpendapat, pemindahan akan menuai masalah karena warga setempat belum tentu mau pindah ke rumah yang disediakan pemkot. Sebabnya, warga sudah nyaman tinggal di bantaran Sungai Karang Mumus.
Ia menyebut, salah satu sebab keengganan warga karena warga merasa sudah puluhan tahun tinggal di bantaran sungai. Sehingga tidak mudah untuk merelokasi warga tersebut. Karenanya, proses sosialisasi dan edukasi penting dilakukan.
“Sebagai contoh saja, ada warga yang tidak mau digeser pagarnya, padahal penggeseran itu untuk kepentingan umum. Ini saja sulit, apalagi memindahkan orang. Relokasi pemukiman itu tidak seperti memindahkan barang,” ucapnya.
Namun, dia yakin pemindahan tetap dilakukan. Hal itu bergantung pada ketegasan Dinas Perkim yang menjalankan program tersebut. “Relokasi adalah program prioritas untuk menanggulangi banjir yang kerap menimpa Kota Tepian,” sebut dia. (*/um/drh)







