BONTANGPOST.ID – Pakar memastikan mamalia air yang menyerupai pesut Mahakam dalam video viral seorang perempuan yang memegang hewan tersebut bukanlah Pesut Mahakam, melainkan Finless Porpoise atau lumba-lumba tanpa sirip punggung.
Peneliti senior Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI), Danielle Kreb, mengungkapkan identifikasi tersebut dilakukan berdasarkan ciri fisik yang terlihat jelas dalam rekaman video.
Ia menjelaskan, Finless Porpoise tidak memiliki sirip punggung, melainkan hanya tonjolan kasar di bagian punggung. Hal ini berbeda dengan Pesut Mahakam yang memiliki sirip punggung kecil dan tumpul.
“Secara sekilas memang mirip, tetapi ini bisa dipastikan adalah Finless Porpoise, mamalia yang hidup di perairan pesisir dangkal,” ungkapnya saat dihubungi, Selasa (13/1/2026).
Selain perbedaan fisik, perbedaan juga terlihat dari habitat alaminya. Pesut Mahakam merupakan mamalia air tawar yang endemik di Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Sementara Finless Porpoise hidup di perairan laut dangkal dan wilayah pesisir.
Danielle juga memastikan lokasi kejadian dalam video tersebut bukan berada di Kalimantan Timur. Berdasarkan informasi yang diterima pihaknya, video itu diduga berasal dari wilayah Merangin, Jambi.
“Kami menduga kejadiannya bukan dari Kalimantan. Informasi yang kami terima menyebutkan lokasi berada di Merangin, Jambi,” jelasnya.
Meski bukan Pesut Mahakam, Danielle menyayangkan tindakan warga yang menjadikan bangkai mamalia laut sebagai objek konten media sosial. Menurutnya, seharusnya temuan tersebut segera dilaporkan kepada instansi terkait agar dapat ditangani dan didata secara ilmiah.
Ia menegaskan, baik Finless Porpoise maupun Pesut Mahakam merupakan satwa yang dilindungi penuh di Indonesia. Saat ini, populasi Finless Porpoise berstatus rentan, sedangkan Pesut Mahakam berada dalam kondisi kritis dan sangat terancam punah.
Danielle menjelaskan, banyak kasus kematian mamalia laut disebabkan jeratan jaring nelayan di wilayah pesisir, mengingat habitatnya berdampingan dengan aktivitas penangkapan ikan. Karena itu, data lapangan sangat dibutuhkan untuk mendukung upaya perlindungan dan konservasi.
Selain berimplikasi hukum, kontak langsung dengan bangkai mamalia laut tanpa prosedur yang benar juga berisiko membahayakan kesehatan manusia akibat potensi bakteri dan penyakit.
“Jika menemukan mamalia laut seperti ini, segera laporkan agar bisa ditangani dengan benar,” pungkasnya. (*)








