Kisah Inspiratif, Moh Syamsul Hadi
Perjalanan hidup memang tidak bisa ditebak. Itu pula yang tergambar dalam sosok Moh Syamsul Hadi. Siapa sangka pria yang menjabat sebagai Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kaltim ini dulunya adalah tukang cukur.
LUKMAN MAULANA, Samarinda
Jauh sebelum menjadi komisioner KPU Kaltim, Syamsul sudah akrab dengan pernak-pernik pemilihan umum (pemilu). Yaitu lewat keikutsertaannya sebagai relawan penggiat pemilu saat masih duduk di bangku kuliah, Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Di antaranya di Forum Rektor dan kegiatan pemantau pemilu lainnya.
“Juga pernah terlibat di Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP). Karena saya tertarik dengan dunia yang berkaitan pelaksanaan pemilu,” kata Syamsul saat ditemui Metro Samarinda (Kaltim Post Group) Selasa (28/3) kemarin.
Setelah lulus kuliah tahun 1998, Syamsul ikut pamannya belajar berwiraswasta. Kala itu sang paman punya usaha mebel. Sempat setahun bersama sang paman, Syamsul lantas merantau ke Benua Etam, tepatnya di Bontang tahun 2000.
Kala itu, ada rekannya yang menawarkan pekerjaan di salah satu perusahaan.
“Tapi setibanya di Bontang, saya tidak bekerja di sana. Karena ternyata tidak ada pekerjaan yang cocok dengan latar belakang pendidikan saya di bidang agama,” kenangnya.
Dari situ Syamsul lantas mencoba membuka usaha sendiri. Keahlian mencukur rambut yang dimilikinya sedari remaja menjadi modal. Di tahun 2001, dia mulai membuka usaha tempat cukur rambut. Perlahan usahanya tersebut berkembang. Sehingga dia memiliki tiga tempat cukur rambut dan enam pekerja.
“Salah satu motivasi saya membuka usaha cukur rambut ini untuk memberdayakan para remaja masjid yang ada di Bontang. Para remaja masjid ini yang menjalankan usaha cukur rambut yang saya rintis. Alhamdulillah sekarang semuanya sudah mandiri,” beber Syamsul.
Memang, Syamsul yang sempat enam bulan menjadi manajer di KJKS Halal Bank itu juga aktif dalam kegiatan masjid. Dia dipercaya menjadi ketua Ikatan Remaja Masjid (Irma) Miftahul Huda di Kampung Jawa, Kelurahan Bontang Baru, Kecamatan Bontang Utara, dalam rentang 2001-2002.
Saat menjadi ketua Irma, dia aktif menggerakkan anak-anak muda dan remaja masjid untuk mengelola organisasi dengan baik. Hingga Irma tersebut memiliki kelompok hadrah dan gamelan.
“Akhirnya muncul kelompok kolaborasi hadrah dan gamelan. Kelompok ini pernah diundang mendampingi Haddad Alwi di Kutai Timur (Kutim),” jelasnya.
Dengan kemampuan menggerakkan remaja masjid itulah, Syamsul lantas dilirik pengurus Nahdlatul Ulama (NU) Bontang. Dia dipercaya menjadi sekretaris Ikatan Pelajar NU (IPNU) tahun 2003. Setelah itu di tahun 2004, dia dipercaya menjadi ketua Gerakan Pemuda (GP) Anshor Bontang.
Dalam kapasitasnya sebagai ketua GP Anshor, Syamsul aktif menjadi narasumber untuk hal-hal berkenaan dengan pemberdayaan masyarakat dan demokrasi kerakyatan di lingkungan pemuda. Dia pun sempat tergabung di Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Bontang sebagai wakil sekretaris tahun 2003.
“Dari kegiatan-kegiatan organisasi itulah, semakin menambah hubungan saya dengan para stake holders. Jaringan saya semakin luas dan bertambah,” ungkap pria yang sempat menjadi kepala studio di radio Nuansa FM Bontang, 2004-2008 ini.
Perlahan, kemampuan organisasi Syamsul mulai diakui. Sehingga rekan-rekannya mendorong Syamsul untuk ikut seleksi penerimaan Komisioner KPU Bontang. Rupa-rupanya, Syamsul memang punya kapasitas untuk berkiprah di lembaga penyelenggara pemilu tersebut. Buktinya dia terpilih menjadi Komisioner KPU Bontang periode 2009-2014.
Berbekal pengalamnnya di KPU Bontang, Syamsul lantas mengikuti seleksi Komisioner KPU Kaltim. Keinginannya kala itu, ingin bisa berperan lebih banyak dalam hal pengabdian kepada bangsa dan negera. Khususnya dalam keilmuan dan praktik di bidang pemilu.
Sekali lagi dia membuktikan kapasitasnya dengan berhasil lulus seleksi dan dilantik menjadi Komisioner KPU Kaltim, Februari 2014.
“Di KPU Kaltim saya menjadi pengampu Divisi Sumber Daya Manusia (SDM) dan Partisipasi Masyarakat. Menangani hal-hal terkait kualitas personalia yang ada di kantor dan penguatan kelembagaan. Juga peningkatan masyarakat dalam keterlibatan suksesnya pemilu ini,” papar Syamsul.
Suka dan duka mengiringi perjalanannya menjadi Komisioner KPU Kaltim. Tepatnya, sudah tiga kali dia terlibat dalam penyelenggaraan pemilu. Yaitu pemilihan legislatif (pileg) dan pemilihan presiden (pilpres) tahun 2014, serta pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak tahun 2015. Dalam rentang pemilu tersebut, banyak hal yang ditemui Syamsul di lapangan.
Yang menggembirakan baginya adalah ketika seluruh proses pelaksanaan pemilu berjalan baik dan terselenggara sukses. Bagi Syamsul, kesuksesan pemilu adalah kebanggaan dan kebahagiaan sebagai penyelenggara pemilu. Walau diakuinya dalam proses itu banyak kendala yang memang butuh konsentrasi penuh dalam menyelesaikannya.
“Oleh karena itu Komisioner KPU dituntut untuk bekerja penuh waktu,” tambahnya.
Salah satu persoalan yang ditemui adalah adanya medan di Kaltim yang tidak gampang ditempuh dalam proses pelaksanaan pemilu. Pun begitu dengan persoalan kualitas SDM penyelenggara ad hoc yang memang butuh pembinaan secara intensif. Jumlahnya tidak sedikit, mencapai 8 ribuan tempat pemungutan suara (TPS).
“Sehingga tidak bisa dihindari, sempat menimbulkan permasalahan-permasalahan dalam pemilu,” sebut pria kelahiran Pati yang April mendatang genap berusia 44 tahun ini.
Diakui Syamsul, pengalaman paling berkesan selama menjadi komisioner adalah ketika menghadapi gugatan pada pemilu 2014 dan pilkada serentak tahun 2015. Dia bersyukur gugatan ini bisa dilewatinya bersama rekan-rekan Komisioner KPU Kaltim lainnya. KPU pun dapat mempertanggungjawabkan kinerjanya sebagai penyelenggara pemilu.
“Berkesan bagi saya, karena itu menjadi tanggung jawab paling utama sebagai KPU. Yaitu ketika penyelenggaraan pemilu berjalan sukses. Bagi saya kesuksesan itu ketika hasil kerja mampu dipertanggungjawabkan dengan baik,” kata Syamsul.
Dalam menjalani hidup, Syamsul memegang erat pesan dari orang tuanya. Yaitu hidup mesti dijalani dengan sebaik-baiknya dan mesti mensyukuri nikmat Allah. Makanya ketika dia mendapat amanah menjadi penyelenggara pemilu di Kaltim, dia pun akan mempertanggungjawabkan dengan sebaik-baiknya.
“Harapan saya proses demokrasi khususnya pelaksanaan pemilu bisa lebih optimal dan berkualitas,” tandas sulung dari tiga bersaudara ini. (***)
Nama: Moh Syamsul Hadi
TTL: Pati, 29 April 1973
Istri: Binti Khuril Ainin
Anak:
- Najma Nabila Aisyah
- Naufal Hammam Murtadho
Pendidikan:
- MI Tarbiyatul Banin, Winong, Pati
- MTsN Winong, Pati
- MAN Pati
- IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta
Alamat: Jalan Bukit Rumbia 2, Samarinda Ilir







