• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Breaking News

Waduh.. Desa di Sulawesi Mendadak jadi Kampung Orang Tiongkok

by M Zulfikar Akbar
2 Januari 2017, 18:58
in Breaking News
Reading Time: 3 mins read
0
Ilustrasi

Ilustrasi

Share on FacebookShare on Twitter

Suasana jalan Desa Morosi, Kecamatan Morosi, Konawe, Sulawesi Tenggara tampak lengang Jumat (30/12) siang itu.

Hanya satu dua kendaraan truk dan mobil operasional proyek yang terlihat hilir mudik di jalan tanah (pengerasan) tersebut.

Mereka keluar masuk kawasan megaindustri Morosi. Di situ ada pembangunan pabrik besar pengolahan mineral (smelter) nikel dan PLTU yang dimulai tiga tahun lalu.

Kelengangan itu berubah pukul 15.00 Wita. Satu per satu pekerja semburat dari lokasi proyek. Baik pekerja lokal maupun TKA. Pekerja pribumi langsung pulang ke rumah masing-masing.

Sementara itu, para TKA menuju deretan kios semipermanen yang berjarak 100 meter dari pintu masuk proyek. Mayoritas beratap seng, asbes, dan daun sagu kering serta berdinding papan.

Deretan kios yang lebih mirip pasar templok itu dihuni warga setempat yang berjualan di sana. Barang yang dijual cukup lengkap. Ada perkakas rumah tangga seperti baskom, ember, gayung, gantungan baju, dan bak air. Beberapa kios juga menjual pulsa telepon, pulsa listrik, kartu perdana, sampai aksesori handphone. Namun, kios paling banyak digunakan sebagai warung.

Ada juga toko buah dan toko kelontong yang menjual galon air mineral isi ulang, mi instan, biskuit, dan kopi saset. Bukan hanya itu, penjual batu akik juga menghiasi deretan kios tersebut. Jasa rental mobil pun bisa ditemukan di area yang terletak satu jam perjalanan darat dari Kota Kendari itu. Ada pula kios yang khusus menjual minuman keras jenis bir.

Baca Juga:  Dituding Terima Suap dari Tiongkok soal Uighur, Ini Bantahan Muhammadiyah

Pasar dadakan tersebut ramai menjelang petang. Pantauan Jawa Pos, pukul 17.00–18.00 Wita, tidak banyak warga lokal yang mengunjungi kios-kios itu. Pembelinya mayoritas pekerja asing asal Tiongkok. Lebih dari 20 pekerja asing menuju kios-kios tersebut setiap menit. Artinya, sekitar 1.200 orang dalam satu jam saja.

Jumlah itu meningkat dua kali lipat setelah petang. Setiap menit ada puluhan pekerja asing yang keluar dari kawasan industri. Mereka berjalan bergerombol lima sampai sepuluh orang. Dari dandanannya, mayoritas identik dengan pekerja kasar atau unskilled worker. Penampilan mereka sangat sederhana. Bahkan bisa disebut kucel.

Sebagian besar mengenakan kaus oblong dan celana training. Ada pula yang memakai kemeja lusuh serta celana kain warna gelap. Sebagian besar pakai sandal jepit. Hanya sedikit pekerja yang mengenakan seragam proyek warna biru dan abu-abu serta bersepatu.

Semua pekerja asing itu menggunakan bahasa Mandarin saat berinteraksi satu sama lain. Tidak ada satu pun yang berkomunikasi dengan bahasa Indonesia atau Inggris. ”Mayoritas yang bekerja di pabrik itu (smelter) memang orang Tiongkok. Orang Indonesianya sedikit,” ujar Fahrudin, warga Desa Morosi.

Nah, kios-kios tadi sengaja didirikan seiring dengan makin banyaknya pekerja Tiongkok di kawasan tersebut. Bahkan, tidak jarang nama kios yang menggunakan tulisan aksara Latin dan aksara Han. Rumah Makan (RM) Berkah misalnya. Di bawah tulisan RM Berkah terdapat aksara Han yang artinya sama dengan nama RM.

”Untuk memudahkan saja. Karena pekerja yang beli di sini (kios) tidak ada yang bisa bahasa Indonesia,” ujar pria yang pernah jadi tukang jasa antar galon untuk pabrik smelter itu.

Baca Juga:  ABK WNI Diduga Diperbudak di Kapal Ikan Tiongkok

Kompleks pasar yang berada di jalan utama Desa Morosi tersebut selalu ramai pukul 17.00 sampai 21.00. ”Seperti pasar malam, jam segitu pekerja asing keluar dari kawasan proyek, cari makan dan belanja,” imbuhnya.

Setiap hari ada ribuan pekerja asing yang berbelanja di pasar tersebut. Mayoritas berjalan kaki. Sebagian membeli makanan instan untuk dibawa ke mes di dalam kawasan proyek. Lainnya membeli makanan siap saji di warung makan.

”Itu (jalan kaki) kebanyakan pekerja kasar. Kalau yang jabatannya level atas naik motor dan mobil, belanjanya ke Kendari,” jelas Fahrudin.

Saat berbelanja di pasar itu, para pekerja yang baru tiba dari negara asalnya biasanya akan membeli baskom untuk wadah air dan makanan. ”Karena mereka tidak mau pakai baskom bekas,” ucap Fahrudin yang punya usaha rental kendaraan.

Di pasar tersebut transaksi jual beli antara penjual dan pekerja Tiongkok lebih dominan menggunakan bahasa isyarat. Maklum, tidak semua pemilik kios bisa berbahasa Mandarin. Begitu juga sebaliknya, sangat minim pekerja asing yang bisa berbahasa Indonesia.

Di RM Hikmah milik Suminah, 42, misalnya, pekerja asing langsung menunjuk makanan yang akan dipesan.

Tidak sedikit pula pekerja asal Tiongkok yang memasak sendiri di dapur rumah makan. Selain keterbatasan bahasa, masak sendiri dilakukan pekerja asing agar cita rasa makanan yang dimakan sesuai dengan selera.

Baca Juga:  Tingkat Polusi Udara di Tiongkok Menurun Saat Virus Korona Mewabah

Caranya, mereka akan menunjuk bahan masakan dan alat masak yang akan diolah sendiri. Memasak biasanya dilakukan lebih dari dua pekerja. Masakan itu nanti disajikan untuk kelompok pekerja berjumlah empat hingga lima orang. ”Kalau ayam potong yang sudah cabut bulu Rp 70 ribu nanti dimasak sendiri sama mereka. Kalau satu porsi nasi bungkus Rp 17 ribu,” terang Suminah.

Untuk menentukan harga, beberapa pemilik kios sudah terbiasa menyebut angka dalam bahasa Mandarin. Untuk baskom seharga Rp 5.000, misalnya, penjual akan bilang bucet ke pekerja asal Tiongkok.

Namun, bila belum bisa berbahasa Mandarin, penjual akan menggunakan isyarat jari. Satu jari menunjukkan harga Rp 1.000, dua jari Rp 2.000, begitu seterusnya. ”Mereka juga banyak yang nawar kalau harganya kemahalan,” ujar Sungkowo, 50, warga setempat.

Pekerja asing Tiongkok di Morosi selama ini memang dikenal tertutup. Terutama soal pekerjaan dan gaji. Saat Jawa Pos mencoba berkomunikasi, mereka selalu menghindar. Mereka hanya mau menyebut nama dan daerah asal.

Selebihnya, mereka akan menunjukkan ekspresi menolak dengan bahasa Mandarin. ”Tidak mau, tidak mau,” ujar Liu Sandong, warga Tiongkok yang bekerja di proyek pembangunan smelter nikel milik PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI).

Ribuan pekerja asal Tiongkok itu menghidupkan perekonomian Desa Morosi. Namun, di sisi lain, ada potensi yang lepas karena seharusnya pekerjaan kasar bisa diisi orang Indonesia yang masih banyak yang menganggur. (tyo/c9/ang)

Tags: desa morositenaga kerja asingtiongkok
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Tersangka Tragedi Pulomas Minta Ditembak Mati Saja

Next Post

Bikin Paspor, Cukup ke Sangatta

Related Posts

260 Tenaga Kerja Asing Bekerja di Bontang, Mayoritas dari Tiongkok
Bontang

260 Tenaga Kerja Asing Bekerja di Bontang, Mayoritas dari Tiongkok

27 Juli 2026, 14:51
1.546 Tenaga Kerja Asing Tersebar di Kaltim, 10 WNA Dideportasi
Kaltim

1.546 Tenaga Kerja Asing Tersebar di Kaltim, 10 WNA Dideportasi

13 Oktober 2024, 14:44
Tiongkok Tawarkan Proyek Infrastruktur di Ibu Kota Baru
Nasional

Tiongkok Tawarkan Proyek Infrastruktur di Ibu Kota Baru

20 Mei 2020, 16:30
Menlu: ABK WNI di Kapal Tiongkok Belum Terima Gaji, Kerja 18 Jam
Internasional

Menlu: ABK WNI di Kapal Tiongkok Belum Terima Gaji, Kerja 18 Jam

11 Mei 2020, 11:30
ABK WNI Diduga Diperbudak di Kapal Ikan Tiongkok
Internasional

ABK WNI Diduga Diperbudak di Kapal Ikan Tiongkok

7 Mei 2020, 10:30
Rupiah Sementara Terkuat di Asia
Ragam

Ekonomi Tiongkok Mulai Pulih dari Korona, Rupiah Terima Sentimen Positifnya

31 Maret 2020, 19:30

Terpopuler

  • Kabar Jasad Bayi Ditukar Bantal Gegerkan Warga Bontang, Polisi Lakukan Penelusuran

    Kabar Jasad Bayi Ditukar Bantal Gegerkan Warga Bontang, Polisi Lakukan Penelusuran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jalan yang Dibangun dengan APBD Rp13 Miliar Ditutup Seng, Warga Kampung Gotong Royong Bontang Terdampak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Polisi Pastikan Isu Jasad Bayi Ditukar Bantal di Bontang Rekayasa, Perempuan Akui Tak Hamil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rekam Medis Tak Catat Persalinan, Polisi Dalami Kabar Jasad Bayi di Bontang Ditukar Bantal

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Akses Jalan Gotong Royong Ditutup, Warga Klaim Belum Terima Ganti Rugi Lahan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.