MAKANAN berbelatung seakan menjadi trend. Pasalnya, tidak hanya terjadi di kota Bontang, namun juga di Kutim. Seperti yang dialami Ardana Syahril (26) warga Sangatta Selatan .Dirinya mengaku menemukan Nasi Kuning (Naskun) dengan daging ayam berbelatung.
Kejadian ini bermula pada Rabu (10/5), saat dia bersama anaknya Qiandra Ardana Putri (4) berada di bengkel pribadinya. Merasa lapar, Qiandra meminta dibelikan nasi kuning malam. Tak ingin menolak permohonan anaknya, ia memutuskan untuk meluncur ke lokasi yang dimaksud. “Nah sampai di sana (warung), saya dan anak langsung duduk dan berniat makan di tempat,” ujar Ardana menceritakan awal kejadian.
Selang beberapa menit, nasi pesananpun datang. Satu sendok sudah masuk ke dalam mulut. Setelah membuka daging ayam yang berlumur sambal bali tersebut, sontak saja dirinya terkejut. Karena di dalamnya terdapat puluhan belatung yang berukuran jumbo dan sedang. Belatung tersebut masih hidup dan merayap hingga ke nasi.
”Sebelumnya saya sudah lihat kalau dalam daging ayam seperti mendidih di dalamnya. Saya kira baru dimasak, ternyata ulat. Diluar dagingnya mulus, tetapi di dalam banyak sekali belatungnya. Di tempat itu juga saya langsung muntah,” kenang Suami Endang Mustika Sari itu.
Sontak saja dirinya geram. Ia merasa dibodohi oleh warung yang terletak di Jalan Poros Yossudarso itu. Nasi kuning tersebut langsung dikembalikan kepada pemiliknya. Tentunya, sebelum meninggalkan tempat ia memberikan nasehat agar tidak mengulang perbuatannya. Kemudian memintanya menghentikan aktivitas berdagang untuk malam itu. Sebab daging yang dimakannya satu tempat dengan lauk yang lain.
“Tetapi yang sangat konyol, dia tidak mau. Malah terus melanjutkan berjualan. Bahkan dia meminta bayaran nasi kuning belatung itu dengan harga Rp10 ribu. Seharusnya dia malu dan berjanji tidak mengulang. Mendengar itu jelas marah,” katanya.
Bahkan orang yang sebelumnya baru selesai makan turut terheran dan langsung meninggalkan lokasi. Begitupun pelanggan yang baru datang. Semua mulai sadar jika makanan yang disajikan tidak laik konsumsi.
“Sampai sekarang masih ada barang buktinya saya simpan. Jujur saya saya ngasih tau orang bukan niat mematikan usaha orang lain, akan tetapi ini pelajaran. Sehingga berjualan harus jujur dan jangan berbuat curang. Terlebih penjualnya tidak sama sekali bersalah. Bahkan malah meminta bayaran,” katanya.
Dirinya menduga, daging yang disajikan kepada konsumen merupakan ayam mati kemarin (Tiren). Jika ayam tersebut baru dipotong, maka mustahil menimbulkan bau dan ulat. Melihat hal ini jelas pelaku dengan sengaja ingin menipu konsumen.
“Jadi saya kira hati-hati saja kalau makan yang berbentuk daging. Baik ayam maupun daging lainnya. Karena sekarang serba di akalin. Daging yang tidak laik bisa diolah menjadi makanan. Warga pun tidak mengetahui,” katanya. (dy)







