• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Breaking News

Alasan Warga Menerima Politik Uang dalam Pemilu

by BontangPost
16 Juni 2018, 10:01
in Breaking News
Reading Time: 2 mins read
0
ILUSTRASI

ILUSTRASI

Share on FacebookShare on Twitter

Beragam alasan dikemukakan warga Bontang yang menerima praktik politik uang. Menariknya, meski sudah mengetahui praktik ini dilarang dan berkonsekuensi hukum, lembaran-lembaran rupiah tetap saja masuk ke dalam saku.

———————–

Beberapa pelaku praktik politik uang yang ditemui media ini, sebagian besar menerima pemberian berunsur politik uang. Namun hal itu bukan lantas menjadi jaminan dalam memilih calon atau kandidat tertentu.

“Kalau ada yang memberi (uang) yang diterima saja. Tapi belum tentu saya memilih dia (calon yang memberi, Red.),” kata DM, salah seorang warga Bontang.

DM sejatinya mengetahui bila penerima politik uang bisa dikenakan pidana. Namun begitu, dia menganggap pemberian tersebut sebagai rezeki yang sayang bila dilewatkan. Pun begitu, dia tidak merasa khawatir karena menganggap tidak ada perjanjian antara dia dengan pemberi untuk memilih calon tertentu.

“Kalau saya menerima (uang) bukan berarti saya akan memilih yang menerima. Saya tidak akan golput, saya akan tetap memilih yang saya anggap sesuai bagi diri saya,” jelasnya.

Baca Juga:  Nama Besar Jadi Tantangan

Menurut DM, praktik politik uang jamak terjadi pada pemilu-pemilu sebelumnya. Sementara untuk pilgub, sejauh ini dia belum mengetahuinya. Namun biasanya di hari-hari terakhir masa kampanye atau menjelang hari pemungutan suara, praktik terlarang ini marak terjadi yang populer dengan sebutan “serangan fajar”.

Di satu sisi, DM mengaku peduli terhadap pilgub. Dia berharap gubernur terpilih nantinya benar-benar gubernur yang mampu mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat Kaltim, khususnya Bontang. “Saya ingin gubernur baru bisa membangun jalan tol Samarinda-Bontang. Masa dari dulu jalannya seperti itu terus,” sebut DM.

Adanya “serangan fajar” diamini MD, warga Bontang lainnya. Dalam pemilu sebelumnya, dia mengaku mendapat amplop berisi uang dari kandidat tertentu pada detik-detik terakhir menjelang pemungutan suara. Namun begitu, amplop yang dia terima bukan lantas mengubah pendiriannya. Pasalnya dari jauh-jauh hari, MD sudah memiliki figur yang dianggap layak dia pilih.

Baca Juga:  Rita Tinggalkan Calon Lain

“Saya tiba-tiba dikasih uang, ya saya terima. Tapi saya tidak pilih dia (yang memberi, Red.). Saya sudah punya calon yang saya pilih. Saat memberikan itu kan tidak ada keharusan untuk memilih dia,” kisah MD.

Meski menerima uang, MD menyadari apa yang dilakukannya itu salah. Dia pun mengetahui bila yang dilakukannya merupakan pelanggaran yang berkonsekuensi hukum. Namun begitu sebagai orang kecil, dia tidak punya pilihan lain. Menurut dia, bagi orang-orang yang mampu seharusnya tidak lagi menerima politik uang. “Kalau kita ini orang kecil bisa apa?” tuturnya pasrah.

Logika seperti ini ditolak keras Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Bontang. Ketua Panwaslu Bontang Agus Susanto menyebut, sekalipun tidak memberikan pilihan akibat politik uang, tetap saja menerima uang yang ditujukan untuk itu. “Ya jangan terima uangnya, jangan juga pilih orangnya,” tegas Agus.

Dia menerangkan, politik uang sejatinya adalah kejahatan politik. Praktik ini semestinya sudah tidak laku lagi di masyarakat yang sudah berpikiran intelek dan berpikir ke depan. Namun di kalangan masyarakat menengah ke bawah, masih ada yang berpikiran memilih karena ada uangnya. Faktor ekonomi seakan menjadi pembenaran untuk menerima praktik ini.

Baca Juga:  Jaang Mulai “Umbar” Janji 

“Karena kebutuhan dan tingkat kemiskinan. Maka sudah menjadi tugas pemerintah bagaimana menyejahterakan masyarakat, sementara kami membantu menyosialisasikan,” sebut dia.

Sementara itu Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bontang, Imam Hambali menegaskan, praktik politik uang hukumnya haram dalam agama Islam. Karena memberikan uang dengan tujuan meluluskan keinginan, dalam hal ini mempengaruhi pilihan warga, bisa disamakan dengan praktik suap. Sementara agama secara jelas melarang hal ini.

“Hukumnya haram. Karena tujuannya supaya memilih calon-calon tertentu. Itu sama dengan menyogok, tidak boleh,” kata Imam.

Berbeda bila pemberian uang dilakukan setelah calon terpilih, maka hukumnya boleh-boleh saja. “Kalau setelah terpilih lalu memberikan uang sebagai bentuk syukuran, tidak apa-apa,” pungkasnya. (luk)

Tags: Money Politikpilgub kaltim 2018
Share3TweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Menciptakan Foto Kreatif

Next Post

Politik Uang Mengancam, Sanksi Disiapkan

Related Posts

Bawaslu Bontang Antisipasi Politik Uang Modus Angpau Natal
Bontang

Bawaslu Bontang Antisipasi Politik Uang Modus Angpau Natal

25 Desember 2023, 13:45
Sofyan dan Jaang Tidak Hadiri Penetapan Gubernur Kaltim Terpilih
Breaking News

Sofyan dan Jaang Tidak Hadiri Penetapan Gubernur Kaltim Terpilih

25 Juli 2018, 11:36
Ditetapkan Jadi Gubernur, Isran Santai
Breaking News

Ditetapkan Jadi Gubernur, Isran Santai

25 Juli 2018, 11:35
Golkar Yakin Bisa Move On 
Kaltim

Golkar Yakin Bisa Move On 

25 Juli 2018, 11:34
Legawa, Rusmadi-Isran Bertemu
Breaking News

Legawa, Rusmadi-Isran Bertemu

11 Juli 2018, 11:35
Proses Rekapitulasi Suara Dijaga Ketat Ratusan Personel Kepolisian
Breaking News

Proses Rekapitulasi Suara Dijaga Ketat Ratusan Personel Kepolisian

9 Juli 2018, 11:37

Terpopuler

  • 25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terbukti Cabutan dari Luar Daerah

    25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terbukti Cabutan dari Luar Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sudah Puluhan Tahun Berdiri, Perusahaan Daerah Bontang Belum Bisa Kelola Solar Nelayan Sendiri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seng Penutup Jalan Gotong Royong Dibongkar Paksa, Wali Kota Neni; Fasilitas Publik Tidak Boleh Ditutup

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wanita di Loktuan Bontang Diringkus Polisi, Sabu Ditemukan di Pinggir Jalan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Empat Hari Diburu, Maling Motor Petani Marangkayu Ditangkap di Tanjung Laut Indah Bontang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.