SAMARINDA – Beberapa saat lalu, Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) Perwakilan Kaltim menyoroti beberapa aset Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda yang dianggap bermasalah. Salah satunya yakni mobil penyedot debu milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda yang dianggap tidak beroperasi secara maksimal. Sedangkan pengadaannya telah menghabiskan anggaran sebesar Rp 3 miliar.
Menanggapi hal tersebut, Kepala DLH Samarinda, Nurrahmani, tidak menampik hal itu. Ia mengatakan, bahwa alat penyedot debu ini pengoperasiannya memang kurang maksimal karena alat ini kerap rusak dan hanya digunakan pada malam hari ketika kondisi jalanan sepi.
“Ketika BPK mengadakan audit, memang kondisi sweeper (penyapu) sedang tidak dapat digunakan. Sebab, ketahanan sweeper yang tidak berlangsung lama. Sehingga tidak dapat digunakan setiap hari,” kata dia belum lama ini.
Jika digunakan setiap hari, kata dia, kemungkinan dalam jangka waktu seminggu hingga dua minggu alat tersebut akan rusak. Sedangkan harga sweeper mahal. Dan harus dipesan dari luar daerah dalam bentuk paketan.
“Untuk memesan tiga sweeper memerlukan dana hingga Rp 21 juta dan harus pesan di luar daerah. Sepekan atau dua pekan kemudian baru datang,” ujarnya.
Belum lagi, kini harga alat tersebut naik hingga dua kali lipat. Wanita yang lebih akrab disapa Yaman ini pun menuturkan, hal tersebut tentu lebih menyulitkan pihaknya. Apalagi untuk pengoperasian semua armada DLH hanya menggunakan dana swakelola yang bernilai Rp 2 miliar.
Dan anggaran tersebut tidak hanya digunakan untuk pengoperasikan, namun juga penggantian suku cadang dan lain sebagainya. “Makanya armada tersebut kadang beroperasi kadang tidak. Namun, tetap kami upayakan dengan memaksimalkan anggaran yang ada,” ujarnya.
Diakui Yama, armada yang dimiliki DLH memang sudah banyak yang tua. Sehingga anggaran yang dimiliki pihaknya kebanyakan dihabiskan untuk perawatan. Misalnya saja, dari sekira sepuluh truk yang dimiliki DLH, hanya tiga unit yang dapat beroperasi. Itu pun kendaraan yang ada masih bermasalah di mesinnya.
“Kalau kendaraan kami tidak bermasalah, sebenarnya anggaran yang ada cukup-cukup saja. Tapi karena barang tua, jadinya kerap bermasalah. Anggaran banyak dihabiskan untuk perawatan,” ungkapnya.
Selain itu, ia menuturkan, bahwa pengoperasian armada penyedot debu itu hanya di jalan-jalan tertentu saja. Pasalnya, armada ini hanya dapat beroperasi di jalanan yang rata dan tidak berlubang apalagi berlumpur. Sebab, alat penyedot debu memiliki tekstur lembut sehingga tidak bisa terkena batu, lubang, dan tanah yang mengeras.
“Untuk kawasan yang tidak tersentuh alat penyedot debu ini, kami masih memaksimalkan tenaga penyapu jalan untuk membersihkan. Ke depannya, kami memiliki target untuk mengoperasikan alat ini di kawasan gerbang masuk Samarinda. Karena kami fokus untuk kebersihan jalan protokol,” ucapnya. (*/dev)







