BONTANG – Beberapa waktu lalu muncul kiriman tulisan bernada miring di jejaring Facebook atas nama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang ditujukan kepada seluruh anggota DPRD Bontang. Setelah di- crosscheck ternyata tulisan tersebut ditulis alumni Stitek.
Klarifikasi pun disampaikan Ketua BEM Stitek Bontang, Saiful Anwar. Dalam tulisan melalui media sosial itu penulis mempertanyakan kinerja legislator yang menyorot legalitas kampus mereka. Kata sang penulis, mahasiswa menilai upaya yang dilakukan anggota DPRD saat ini hanya untuk mencari popularitas saja jelang pilkada.
“Alasan dari alumni tersebut mengirim tulisan karena kecewa dengan polemik yang terjadi di kampus Stitek saat ini,” ujarnya kepada Bontang Post, Selasa (16/1) lalu.
Ditanya soal status kepengurusan BEM yang kini sudah habis masa kepengurusannya, dia mengaku jika hal itu benar. Hanya saja, karena masih adanya polemik yang masih terjadi di kampusnya, sehingga kepengurusan BEM di bawahnya memutuskan untuk menunda musyawarah besar (mubes). “Meskipun saya bukan ketua lagi, namun saya akan tetap bersuara sebagai mahasiswa. Dan meskipun pergantian ketua nantinya terjadi, kami akan tetap mengawal suara-suara mahasiswa,” sebutnya.
Saiful berharap, permasalahan yang terjadi di kampus mereka bisa segera diselesaikan sehingga perkuliahan bisa kembali berjalan seperti semula. Selain itu, dia juga berharap agar pihak yayasan kampus bisa lebih terbuka dan transparan kepada mahasiswa, DPRD , maupun Pemkot Bontang.
“Kami juga berharap kampus ini bisa berfungsi kembali untuk memudahkan anak-anak Bontang menempuh pendidikan tanpa harus ke luar Bontang,” tukasnya.
Seperti diketahui, Stitek Bontang diperhadapkan prahara perubahan struktur yayasan. Konon terindikasi terjadi perpindahan tangan yayasan dari instansi ke perorangan. Civitas akademika yang di bawahi Yayasan Pendidikan Bessai Berinta (YPBB) ini diwacanakan akan diinvestigasi oleh DPRD melalui pansus yang akan dibentuk, sehubungan legalitas kepemilikannya. (bbg)






