SUDAH dua pekan terakhir Bahan Bakar Minyak (BBM) di sejumlah wilayah di Kaltim mengalami kelangkaan. Akibatnya, antrean panjang tak dapat dihindari. Pelaku bisnis transportasi bahkan harus rela antre berjam-jam. Namun pulang dengan tangan hampa karena tangki kendaraannya tak terisi.
Menanggapi masalah tersebut, Region Manager Communication and CSR Kalimantan PT Pertamina, Yudi Nugraha mengungkapkan, kelangkaan BBM terjadi karena cuaca buruk yang menimpa sebagian besar pulau di Indonesia. Pasalnya memasuki bulan April, cuaca ekstrem kerap kali menghambat proses distribusi BBM.
Ia mencontohkan, di Karimunjawa, Jawa Tengah, biasanya Pertamina mengirim BBM selama tiga jam untuk didistribusikan di Jawa. Karena cuaca ekstrem, perusahaan pelat merah itu harus menghabiskan waktu 19 jam di pulau Jawa.
“Jadi bukan hanya di Kaltim, tapi di seluruh Indonesia. Di bebarapa daerah, penyaluran yang biasanya cepat, terkendala karena cuaca ekstrem ini,” kata Yudi, Senin (19/3) kemarin.
Namun lanjut dia, beberapa hari terakhir cuaca sudah membaik. Sehingga proses distribusi BBM sudah kembali normal. “Sudah aman lagi penyalurannya. Bisa dilihat di sejumlah daerah,” ujarnya.
Meski demikian, pihaknya tetap mengambil beberapa langkah agar BBM kembali normal. Salah satunya menambah tangki BBM di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
“Untuk wilayah Kaltim sendiri, sudah kami ambil langkah itu. Sama dengan di Tarakan, kami tambahkan tangki di SPBU. Supaya bisa menambah pasokan BBM. Tujuannya agar masalah kelangkaan ini segera teratasi,” sebutnya.
Yudi menambahkan, kelangkaan BBM juga tidak selamanya disebabkan cuaca ekstrem. Sebab lainnya, terjadi keterlambatan distribusi pasokan BBM dari luar negeri. Pasalnya Indonesia masih tercatat sebagai importir minyak.
“Kelangkaan Bahan Bakar Khusus (BBK), sebanyak 80 persen sebabnya kendala distribusi dari luar negeri. Karena Indonesia bukan negara penghasil murni. Sebagian masih mengandalkan impor dari negara lain,” ucapnya.
Setiap tahun, khusus untuk BBK, Pertamina hanya mampu memasok satu juta barel. Sedangkan kebutuhan dalam negeri mencapai 1,6 juta barel. “Artinya Indonesia kekurangan 600 ribu barel. Itulah yang membuat Indonesia tercatat sebagai negara yang masih bergantung pada BBK import,” bebernya. (*/um)







