SAMARINDA – Sejumlah calon jemaah haji yang terdaftar di PT Hidayah Hasyid Oetama (H20) mengaku trauma mendaftar di travel yang menyediakan jasa keberangkatan haji dengan waktu penantian yang singkat. Terlebih uang puluhan juta yang disetor di perusahaan tersebut terancam tak dikembalikan.
Calon jemaah haji yang tinggal di Jalan Muhammad Said, Kelurahan Lok Bahu, Kecamatan Sungai Kunjang, Samarinda, Maslan (45) mengaku telah mendaftar sebagai calon jemaah haji di PT H20 sejak 2013. Bersama istrinya, dia menyetor uang Rp 260 juta.
“Pilihan kami haji plus. Padahal sebelumnya saya sudah mendaftar secara resmi di Haji Tamrin di Loa Bakung. Bahkan sebagian sudah dibayar. Cuman rayuan dan tawaran PT H20 membuat kami terpengaruh,” katanya, Jumat (22/6) kemarin.
Maslan dan istrinya mengumpulkan uang tersebut selama tiga tahun. Bekerja siang dan malam sebagai pedagang kacang keliling membuatnya mampu mendapatkan pundi-pundi uang.
Selain itu, maslan juga bekerja sebagai kuli bangunan. Pekerjaan dilakoni dengan penuh semangat demi mendapatkan uang untuk memenuhi harapan menunaikan panggilan Allah.
“Cukup rumit kami mendapatkan untuk segitu. Saya enggak bisa bayangkan perjalanan selama bertahun-tahun untuk mengumpulkan uang. Nyatanya harus berakhir begini. Saya jadi menyesal sudah memilih travel PT H20,” ujarnya.
Sejatinya, bersama puluhan jemaah yang berasal dari Samarinda, Bontang, dan Kukar, mereka tidak tinggal diam. Jemaah mempertanyakan kepastian waktu keberangkatannya ke tanah suci.
“Bukan sekali atau dua kali kami pertanyaan pada PT H20. Tapi sudah berkali-kali, Mas. Kami hanya dijanjikan uang kami akan dikembalikan. Kenyataannya sekarang enggak ada,” sesalnya.
Pilihan pendaftaran sebagai calon jemaah haji di PT H20 bukan tanpa alasan. Maslan mengaku, manajemen perusahaan tersebut menjanjikan akan memberangkatnya pada 2015. Artinya, hanya dua tahun waktu yang digunakan untuk dapat berangkat haji.
Hal itu tentu saja sangat berbeda jauh dengan rentang waktu tunggu yang ditawarkan Departemen Agama (Depag). Di Depag, setiap calon jemaah harus menunggu puluhan tahun untuk mendapatkan giliran demi menunaikan rukun Islam tersebut.
“Kalau uang kami dikembalikan, saya pilih jalur Depag saja. Walaupun menunggu lama, tetapi pasti berangkat haji,” katanya.
Di Depag, keberangkatan calon jemaah haji bergantung nomor urut. Berdasarkan informasi yang dikumpulkan Maslan, setiap calon jemaah harus menunggu 20 tahun. Terlebih semakin membludaknya jumlah jemaah yang menanti keberangkatan. Maka waktu menunggu akan semakin lama.
Kata dia, penantian panjang tersebut sedikit terurai dengan kebijakan pemerintah yang memberikan tambahan kuota calon jemaah haji Kaltim. Beberapa tahun terakhir, ada calon jemaah haji yang hanya menanti tujuh hingga sembilan tahun.
“Apalagi biaya pendaftaran haji sangat jauh bedanya. Di Depag itu hanya 38 juta. Sedangkan di PT H20 beda-beda lagi. Ada yang Rp 75 juta, Rp 85 juta, sampai Rp 130 juta per orang,” jelasnya.
Dia mengaku heran mengapa biaya haji di PT H20 berbeda-beda antar jemaah. Di kepolisian, Maslan mendapat informasi bahwa perusahaan tersebut diduga melakukan pencucian uang.
“Jangan-jangan perusahaan ini melakukan money laundry. Karena setoran setiap orang itu tidak sama. Dari 71 jemaah itu cuman beberapa orang saja yang sama jumlah setorannya,” ucap dia.
Sedari awal, dirinya tidak cermat mempertanyakan secara detail legalitas perusahaan tersebut. Informasi terbaru, berdasarkan penelurusan dirinya dan calon jemaah haji lainnya, travel tersebut belum mendapatkan izin dari pemerintah.
“Ya itulah terjebaknya kami. Ini pengalaman yang bisa diingatkan ke depan pada keluarga dan tetangga agar mereka berhati-hati,” tuturnya.
Selaku perwakilan PT H20 di Samarinda, Mastori pernah didatangi media ini untuk mengklarifikasi masalah tersebut. Namun di tidak berada di rumahnya di Jalan Ir Sutami, Samarinda. Di rumah tersebut hanya ada anak dan beberapa anggota keluarganya. Anak kandung Mastori yang bernama Lukman mengaku ibunya sedang dalam perjalanan menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Tidak berhenti sampai di situ, berkali-kali media ini menghubungi Mastori. Hingga berita ini diterbitkan, belum ada jawaban dari Mastori terkait keterangan calon jemaah haji tersebut. (*/um)








