Akhlak menjadi penekanan utama kepada seluruh anak didiknya, selama mengajar. Metode pembiasaan pun menjadi senjata pamungkasnya menanamkan akhlak pada sang murid.
Yusva Alam, Bontang
27 tahun bukan waktu yang singkat bagi Sobirin, berprofesi sebagai seorang pengajar. Suka duka profesi mulia ini tentu kerap dialaminya. Apalagi, pendidikan Agama Islam menjadi mata pelajaran utama yang diasuhnya sejak awal hingga saat ini. Tidak hanya memiliki beban moral di dunia namun juga di akhirat.
Itu sebabnya, pria asal Pekalongan ini lebih menekankan pada akhlak ketimbang akademis anak-anak didiknya. Pasalnya, akhlak akan mengantarkan kesuksesan di dunia, juga di akhirat kelak.
Walaupun pada awal-awal karirnya sebagai pengajar, diakuinya masih minim pengalaman. Sehingga pengajaran yang diberikannya tidak bisa maksimal.
“Saat itu saya masih mudah emosi. Belum bisa menangani murid dengan baik. Bahkan memberikan nilai kepada murid berdasar kemampuan guru, bukan kemampuan murid,” ujarnya.
Namun seiring berjalannya waktu, pria yang mulai mengajar di Yayasan Pupuk Kaltim (YPK) sejak tahun 1990 ini terus meningkatkan kemampuan mengajarnya. Dengan meningkatnya kemampuan tersebut, otomatis berimbas pada anak-anak didik. Rata-rata anak didiknya senang dengan metode pengajarannya.
“Saya menggunakan metode pembiasaan pada sang anak. Untuk mengajarkan akhlak kepada mereka. Seperti misalnya, membiasakan makan dengan tangan kanan, berdoa sebelum melakukan sesuatu, dan lain sebagainya,” beber Sobirin.
Dengan motede tersebut, anak-anak didiknya antusias mengikuti pelajarannya. Karena metode tersebut lebih memperbanyak praktik ketimbang teori saat memberikan pelajaran agama. Salahsatunya lagi dengan memindah tempat belajar di musala, bukan di ruang kelas. Karena di musala sekolah inilah, anak-anak akan banyak melakukan praktik-praktik ibadah yang akan diajarkan.
“Saya selalu berusaha membuat murid-murid ini senang terlebih dahulu kepada gurunya. Kalau mereka sudah senang, maka pelajaran apapun yang saya berikan akan mudah mereka serap,” ungkapnya.
Selain itu, metode pembiasaan ini akan mudah diterima murid karena tidak hanya sekedar teori yang baru diajarkan dan cepat lupanya, namun langsung dipraktikkan oleh anak-anak didiknya.
“Suatu saat dewasa kelak, walaupun anak-anak ini ‘jalannya mulai berbelok’ mereka akan kembali ingat pelajarannya di waktu kecil. Memori positif yang sudah tertanam sejak kecil akan membantu meluruskan jalan mereka,” tegasnya.
Diakuinya, selama 27 tahun mengajar, Sobirin sudah pernah mengajar di semua tingkatan. Mulai SD, SMP, dan SMU. Namun menurutnya, mengajar murid-murid SD yang paling berkesan baginya. Karena mengajar anak-anak SD memiliki tantangan tersendiri. Anak SD masih sangat ketergantungan dengan sang guru, berbeda dengan tingkat SMP dan SMU yang sudah mulai mandiri.
“Kalau murid yang diajar ada 30 anak, berarti ada 30 karakter berbeda yang harus saya pahami. Saya harus berusaha bisa memahami keseluruhan karakter anak-anak ini,” jelasnya.
Saat ini dirinya sudah mulai memasuki masa-masa pensiun. Namun Ia masih semangat dalam mengajar. Karena tidak hanya mengajar di sekolah, Ia juga membagikan ilmunya dengan menjadi dai. Dan kegiatan dakwahnya tersebut sudah lama dilakukannya. Selain itu, ia patut bersukur, karena salahsatu anaknya ada yang mengikuti jejaknya sebagai pengajar agama Islam.
“Walaupun nantinya saya tidak lagi mengajar anak-anak, namun saya masih bisa mengajar orang-orang dewasa melalui ceramah-ceramah dan kajian yang sudah saya lakukan selama ini. Saya berharap ilmu yang saya bagikan ini menjadi amal baik saya di akhirat,” pungkasnya. (*)
TENTANG SOBIRIN:
Nama: Drs Sobirin
TTL: Pekalongan, 04/01/1962
Pendidikan: IAIN Sunan Kalijaga, Fakultas Tarbiyah, Jurusan Pendidikan Agama Islam
Profesi: Guru Agama Islam di YPK







