Menjadi wiraswasta bukan sekadar bagaimana menghasilkan dan menjual suatu produk atau jasa. Tapi juga bagaimana mendistribusikan keuntungan melalui jalan yang positif. Itulah yang diyakini Samsudin, pemilik Arraya Group yang menaungi usaha advertising dan properti real estate.
LUKMAN MAULANA, Samarinda
Kondisi ekonomi keluarga menempa hidup Samsudin sejak remaja. Ketidakmampuan orang tua untuk membiayai sekolah hingga perguruan tinggi bukan jadi penghalang. Tekad untuk meningkatkan kualitas diri melalui pendidikan membawa Samsudin menjalani profesi juru parkir demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah.
“Dari menjaga parkir itu saya bisa mengumpulkan uang untuk biaya kuliah. Saya kuliah sambil bekerja,” kenang Samsudin saat ditemui Metro Samarinda.
Bukan hanya menjadi tukang parkir, sulung dari empat bersaudara ini lantas melakoni pekerjaan sebagai tukang cuci piring di salah satu hotel berbintang di Kota Tepian. Semua itu dijalaninya dari 2004 hingga 2009. Dari situlah dia bisa menyelesaikan pendidikan diploma 3 Bahasa Inggris di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda dan S1 Hukum Universitas Widya Gama Mahakam.
“Saya menyadari untuk meningkatkan kualitas diri itu melalui pendidikan. Saya memilih Ilmu Hukum karena banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari,” kata dia.
Lama menjadi pekerja, timbul keinginan Samsudin untuk memiliki usaha sendiri. Terbersitlah ide berjualan bakso. Secara autodidak, dia mempelajari bagaimana proses pembuatan bakso. Berbekal tabungan gaji, Samsudin pun mulai menjajal dunia usaha dengan berjualan bakso bersama sang istri, Astria Heriyanto di kantin kampusnya pada 2009.
“Istri yang membuat kuah, saya yang membuat baksonya. Saat itu saya sering diledekin, masa calon sarjana hukum jualan bakso,” beber Samsudin yang mengaku sempat bercita-cita menjadi tentara.
Berjualan bakso semakin menambah kesibukan Samsudin. Pasalnya saat itu dia masih bekerja sebagai tukang cuci piring sekaligus masih menempuh pendidikan S1. Namun dengan manajemen waktu yang baik, ketiga kegiatannya itu tidak ada yang terganggu. Malahan usaha baksonya berkembang dengan membuka cabang di daerah Loa Bakung.
“Saya sempat mempekerjakan orang untuk menjaga rombong bakso saya,” tambahnya.
Namun memasuki penyusunan skripsi di 2010, usahanya mulai tak terurus. Kesibukan membuat Samsudin tak sempat memantau usaha baksonya. Sehingga tanpa dia ketahui, rombong baksonya diangkut Satpol PP. Usaha baksonya pun macet karena munculnya pesaing. Di saat hampir bersamaan, Samsudin berhenti bekerja sebagai tukang cuci piring di hotel.
“Di tahun itu saya sempat stres karena tidak ada pekerjaan. Apalagi waktu itu saya juga baru menikah,” jelas Samsudin.
Setelah bergelar sarjana hukum di 2011, Samsudin kembali mencari kerja. Pekerjaan sebagai kanvaser di salah satu perusahaan leasing pernah dilakoninya. Namun pekerjaan itu tidak bertahan lama. Samsudin lantas mengisi waktu dengan menerima pesanan baliho dan spanduk dari kawannya. Dia bekerja sama dengan rekannya yang memiliki keahlian desain dalam pengerjaannya.
“Awalnya ada teman yang minta untuk dibuatkan desain sekaligus dicetakkan balihonya. Saya siasati dengan bekerja sama teman yang pintar desain, lantas saya bawa ke percetakan untuk dicetak,” tutur penggemar menu nasi pecel ini.
Dari terima order desain kecil-kecilan itulah, perlahan nama Samsudin mulai dikenal. Banyak yang kemudian memercayakan desain dan cetak berbagai alat peraga periklanan kepadanya. Menyadari peluang usaha ini, Samsudin lantas membuka usaha percetakan digital dan periklanan yang diberi nama Arraya Advertising.
“Jasa yang saya layani yaitu percetakan, pembuatan reklame, baliho, spanduk, dan lain sejeninya,” terang Samsudin.
Pada 2013, Samsudin memberanikan diri membeli mesin percetakan jenis Jerman di Jakarta. Padahal waktu itu dia belum memiliki uang yang cukup. Dana yang dimiliki sejumlah Rp 20 juta dijadikannya sebagai uang muka pembayaran. Samsudin membayarnya dengan cara mengangsur bermodalkan kepercayaan.
Kedisiplinan dalam berusaha ditambah menjaga kepercayaan pelanggan perlahan membawa bisnis percetakan yang digeluti Samsudin berkembang. Kini, Samsudin mampu memekerjakan 30 karyawan dengan omzet usaha mencapai Rp 300 juta dalam satu bulan. Dari pendapatan tersebut, dia bisa mengantongi keuntungan bersih Rp 100 juta hingga Rp 150 juta.
“Saya selalu mengutamakan pelayanan yang cepat dan berkualitas. Selain itu, harus konsisten dalam memegang kepercayaan konsumen maupun mitra kerja,” sebutnya.
Berhasil mengembangkan usaha percetakan, Samsudin lantas melirik peluang bisnis lainnya. Berawal dari kegemaran melihat gambar rumah, dia menjadi tertarik berbisnis properti. Di 2015, Samsudin mulai merintis usaha properti dengan membangun beberapa rumah di kawasan Jalan M Said. Banyaknya warga Samarinda yang kesulitan untuk bisa mempunyai rumah menjadi pertimbangan dalam merintis usaha properti dan real estate yang diberi nama Arraya Regency.
“Arraya Regency memberikan pilihan hunian dengan harga yang kompetitif dan bisa dijangkau masyarakat,” papar pehobi joging ini.
Sebagaimana Arraya Advertising, bisnis properti miliknya ini perlahan berkembang. Pada 2016 silam, Samsudin membangun kompleks perumahan Arraya Regency 2 di kawasan Loa Bakung. Di lahan seluas dua hektare, kompleks perumahan keduanya ini direncanakan menyediakan 125 unit properti. “Ada tiga pilihan tipe rumah yang kami tawarkan. Yaitu tipe 36, tipe 45, dan tipe 55,” imbuhnya.
Kini, bisnis properti dan real estate yang dijalankan Samsudin mampu menghasilkan omzet sekira Rp 300 juta hingga Rp 400 juta. Bersama Arraya Advertising yang lebih dulu dikembangkan, Arraya Regency masuk dalam Arraya Group yang dimiliki Samsudin.
Meski telah mampu menciptakan lapangan pekerjaan serta menghasilkan keuntungan besar, Samsudin menyebut perjalanan bisnisnya tersebut tidaklah mudah. Serangkaian suka duka dia lalui dalam membesarkan Arraya Group. Misalnya saja saat awal-awal mengembangkan Arraya Advertising, Samsudin merasakan benar bagaimana dikejar-kejar utang.
“Dalam rentang 2013 sampai 2014, saya sempat dikejar utang sampai setengah miliar. Dengan ikhtiar dan komitmen untuk membayar, akhirnya saya mampu melunasinya,” kisah ayah tiga anak ini.
Pun begitu, Samsudin juga sempat diremehkan orang saat pertama merintis Arraya Regency. Sebagai pemain baru, dia dianggap belum berpengalaman. Namun omongan orang tidak terlalu didengarkannya. Samsudin terus menjalankan bisnisnya dengan mematangkan setiap strategi dan tidak lupa memaksimalkan ibadah kepada Yang Maha Kuasa.
Hasilnya, Samsudin berhasil mencatatkan penjualan yang mengesankan. Pernah dalam satu bulan dia berhasil menjual 8 unit rumah. Sementara di bisnis percetakan, omzetnya mampu menembus angka Rp 800 juta dalam sebulan. “Pencapaian itu merupakan hal yang paling berkesan buat saya. Bagi saya, ada kepuasan tersendiri saat saya berhasil menjual dan gol tercapai,” jelasnya.
Samsudin meyakini, keberhasilannya dalam berwiraswasta tak terlepas dari peran Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu dalam menjalankan usaha, dia bukan sekadar memikirkan produksi dan penjualan. Melainkan juga distribusi penghasilan yang didapatkan. Dalam hal ini, sebagian pendapatannya disedekahkan kepada orang-orang yang membutuhkan dan juga anak-anak yatim piatu.
“Semakin banyak produksi, maka semakin banyak pula sedekah yang mesti dikeluarkan. Sedekah inilah yang membuat usaha menjadi berkah. Harta tidak akan pernah berkurang selama digunakan untuk memuliakan orang lain,” pungkas pria 33 tahun ini. (***)
TENTANG SAMSUDIN
Nama: Samsudin
Istri: Astria Heriyanto
Anak:
- Rias Nurraya Hunnah
- MS Malikussaid Samsuddin
- M Ismail
Alamat: Jalan Antasari II Nomor 5, Samarinda







