• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Feature

Kisah Inspiratif Warga Bontang: Ismail Sake Zikiri (226); Sukses Geluti Usaha Menjahit, Pimpin Puluhan Karyawan 

by BontangPost
18 April 2017, 12:55
in Feature
Reading Time: 3 mins read
0
Ismail Sake Zikiri(IST)

Ismail Sake Zikiri(IST)

Share on FacebookShare on Twitter

 

 

Saat menjadi mekanik tak mampu merubah perekonomian keluarga, Ismail banting setir menjadi seorang penjahit. Alhasil dia pun  sukses bersama sang istri dengan menggeluti jasa menjahit dengan nama  Icaq Taylor Textile. Berkat usahannya ini, Ismail dapat mempekerjakan hingga puluhan karyawan sampai saat ini.

Veri Sakal, Bontang

Terlahir dari keluarga sederhana dan hanya berlatar pendidikan SMA, membuat Ismail  selalu  berusaha memperbaiki kehidupannya dan keluarga untuk selalu bekerja keras, guna mendapat penghidupan yang lebih layak. Ini pun dilakukan Ismail  dengan memilih bekerja ketimbang melanjutkan pendidikannya dengan kuliah.  Pekerjaan pertama yang ditekuninya adalah menjadi seorang mekanik, di salah satu bengkel mobil yang ada di Makassar, Sulawesi Selatan.

Selama berkerja 1,5 tahun, ia pun  menikahi seorang gadis asal Soppeng bernama Masriani. Namun seiring berjalannya waktu, dengan melihat kebutuhan semakin tinggi  karena berkeluarga, Ismail pun memutuskan berhenti di bengkel dan memilih menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Serawak Malaysia, sebagai buruh kepala sawit pada 1998.

“Waktu itu demi mencari pekerjaan yang layak, saya meninggalkan istri saya dan anak pertama kami yang masih berusia 3 bulan,” kenangnya, Senin (17/4) kemarin.

Meski keputusan itu  berat, Ismail pun pergi meninggalkan keluarga kecilnya tesebut. Dengan harapan dapat mensejahterakan mereka. Namun ketika di sana, bukannya meningkat ternyata  dia  sempat ditipu anak perusahaan tempat dia bekerja, karena  gaji yang diterimanya hanya 600 ringgit atau setara  500 ribu bila di rupiahkan kala itu. Tetapi permasalahn tersebut sebenarnya sudah dapat diatasai berkat kekompakkan para buruh di sana, yang memilih mogok kerja.

Baca Juga:  Susahnya Mahasiswa Jaman Now

Sehingga  Ismail dan kawan-kawan buruh lainnya akhirnya menikmati gaji dari induk perusahaan sebesar 1000 ringgit atau sekira RP 2,5 juta saat itu. Kendati demikian, itu hanya dinikmati selama lima bulan. Pasalnya ketika memasuki cuti tahunan, Ismail  yang  kembali ke kampung halaman istrinya, memutuskan tidak akan kembali lagi ke perusahaan itu.

“Selama satu setengah tahun bekerja menjadi TKI, gaji yang saya dapat semua saya simpan untuk hidup bersama istri dan anak saya sambil mencari tempat baru dalam melanjutkan hidup,” jelasnya.

Dengan modal tersebut, akhirnya dia berkonsultasi dengan kedua kakaknya yang berada di Bontang dan Papua. Dari hasil konsultasi ini, dia memutuskan datang ke  Bontang di tahun 2000 sebagai tempat melanjutkan kehidupan bersama keluarga kecilnya. Tidak lama tinggal di Bontang, di Gang Api-Api di sebuah gubuk kecil yang  dikontraknya  sebesar Rp 50 ribu per bulan.  Untuk hidup sehari-harinya,  Selain mengojek dan Ismail juga bekerja di bengkel mobil .

Namun melihat kedua pekerjaan tersebut tidak juga membuat perekonomian keluarganya membaik, dia pun  memutuskan untuk berhenti dari kedua profesi tersebut dan menekuni usaha menjahit. Keputusannya tersebut diambil ketika melihat jasa menjahit yang ditekuni istrinya mulai mendapat kepercayaan masyarakat. Yang tak lepas juga dari hasil usahanya selalu mempromosikan jasa menjahitnya ketika  bekerja di bengkel.

Baca Juga:  Dari Militer Jadi Politisi, Dari Abdi Negara Jadi Abdi Masyarakat

“Yang mempercayai kami waktu itu adalah ibu -ibu pejabat dan eksekutif perusahaan yang ada di Bontang,” tuturnya.

Lambat laun akhirnya usaha mereka  yang berada di Jalan KS Tubun RT 32 Kelurahan Api-Api, Kecamatan Bontang Utara terus berkembang. Tak ayal ini pun membuat pereknomian mereka juga semakin  terus meningkat.  Dikatakannya , selain berkah menggunakan nama  panggilan anak pertamanya, ini juga berkat kepercayaan pelanggan kepada  mereka  karena selalu memberikan pelayanan ekstra dengan menyelesaikan pesanan pelanggan tepat waktu dan memanajemen dengan baik usahanya.

Dengan menggunakan sistem tersebut, akhirnya mereka pun banjir orderan di tahun 2005 lalu. Dikarenakan  banyak orang yang memesan gaun dan pakain pengantin yang harganya mulai dari Rp 500 ribu – Rp 3 juta. Melihat banyaknya orderan tersebut, mereka pun semakin kewalahan. Akhirnya untuk mensiasatinya, mereka pun menambah karyawan 5 orang. Dari situ akhirnya jasa menjahitnya terus berkembang pesat. Bahkan saking berkembangnya, dia pun menambah lagi karyawan hingga menjadi 20 orang.

Baca Juga:  Kisah Inspiratif Warga Bontang: Dion (283); Tertarik Gym sejak di Balik Jeruji, Punya Segudang Prestasi

“Selain modal kepercayaan masyarakat, di toko kami  juga menjual kain-kain yang memiliki kualitas terbaik dari pengusaha kain dari India yang berada di Jakarta,” katanya.

Seiring semakin berkembangnya, dari 20 saat ini karyawan tinggal 10 orang. Mereka-mereka ini lah yang berkomitmen selalu ikut dengan Ismail yang kini memiliki gaji hingga Rp 4 juta. Bahkan diakuinya, gaji karyawannya saat ini yang paling rendah hanya Rp 1,6 juta. Sistem yang digunakan dalam mengaji mereka adalah setiap bahan yang dijahit, mereka akan mendapat 30 persen dari hasil itu.

Dijelaskan Ismail , dalam proses menjahit itu kadang-kadang karyawannya  bisa menyelesaikan  sehari bisa tiga gaun. Sehingga bila satu kain saja Rp 100 ribu, bila mencapai tiga kain. Yang didapatkan mereka bisa Rp 90 ribu per hari, kemudian bila dikalikan sebulan bisa mencapai Rp 2,7 juta. Bahkan mereka pun mendapatkan Tunjangan Hari Raya (THR) ketika Lebaran.

“Saya tidak pernah mengganggap mereka karyawan, karena saya menggangap mereka  adalah mitra kerja dan selalu berusaha mensejahterakanya,” pungkasnya. (Bersambung)

Tentang Ismail

Nama: Ismail Sake Zikiri

TTL: Barru, 19 Maret 1973

Nama Orang Tua: Sake Zikiri – Hj Nanka

Istri: Masriani

Anak:

  1. Muhammad Ishak
  2. Noor Dini Indah

Alamat: Jalan KS Tubun RT 32, Kelurahan Api-Api, Kecamatan Bontang Utara.

Tags: kisah inspiratifwarga bontang
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Sah, Dua Bupati Lamar PAN

Next Post

19 Koperasi Mati Suri, Diskop UKMP Bakal Perketat Pengajuan Pembentukan Koperasi 

Related Posts

Pengeluaran Warga Bontang Tertinggi di Kaltim, Capai Rp2,6 Juta Per Bulan
Bontang

Pengeluaran Warga Bontang Tertinggi di Kaltim, Capai Rp2,6 Juta Per Bulan

31 Maret 2026, 08:00
Kisah Hainun dan Gaharu “Ajaib” dari Bontang; Dulu Hanya Ilalang, Kini Jadi Produk Ekspor
Feature

Kisah Hainun dan Gaharu “Ajaib” dari Bontang; Dulu Hanya Ilalang, Kini Jadi Produk Ekspor

13 Juli 2025, 12:07
6.892 Orang Pilih Hengkang dari Bontang
Bontang

6.892 Orang Pilih Hengkang dari Bontang

31 Januari 2023, 16:08
Kisah Inspiratif Kakek Penjual Sapu Lidi: Selama Kuat, Bekerjalah
Ragam

Kisah Inspiratif Kakek Penjual Sapu Lidi: Selama Kuat, Bekerjalah

18 Desember 2020, 09:19
Di Palu, Kebaikan Menular dari Secangkir Kopi Gratis
Feature

Di Palu, Kebaikan Menular dari Secangkir Kopi Gratis

11 Januari 2019, 15:40
Kondisi Ekonomi Lumpuh, Jadi Ojek Online untuk Bertahan Hidup
Feature

Kondisi Ekonomi Lumpuh, Jadi Ojek Online untuk Bertahan Hidup

4 Desember 2018, 17:00

Terpopuler

  • Jalan yang Dibangun dengan APBD Rp13 Miliar Ditutup Seng, Warga Kampung Gotong Royong Bontang Terdampak

    Jalan yang Dibangun dengan APBD Rp13 Miliar Ditutup Seng, Warga Kampung Gotong Royong Bontang Terdampak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seng Penutup Jalan Gotong Royong Dibongkar Paksa, Wali Kota Neni; Fasilitas Publik Tidak Boleh Ditutup

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabar Jasad Bayi Ditukar Bantal Gegerkan Warga Bontang, Polisi Lakukan Penelusuran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Polisi Pastikan Isu Jasad Bayi Ditukar Bantal di Bontang Rekayasa, Perempuan Akui Tak Hamil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Akses Jalan Gotong Royong Ditutup, Warga Klaim Belum Terima Ganti Rugi Lahan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.