• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Feature

Kisah Inspiratif Warga Bontang: Syarifah Muslimah (257); Jadi ‘Dokter Hati’, Senang Membantu Korban Bencana

by BontangPost
19 Mei 2017, 12:55
in Feature
Reading Time: 3 mins read
0
INSPIRATIF: Syarifah Muslimah (kiri) saat bersama Psikolog Reni Kusumowardhani, senior Psikolog yang biasa mendampingi para napi sebelum dieksekusi mati di Nusakambangan.(IST)

INSPIRATIF: Syarifah Muslimah (kiri) saat bersama Psikolog Reni Kusumowardhani, senior Psikolog yang biasa mendampingi para napi sebelum dieksekusi mati di Nusakambangan.(IST)

Share on FacebookShare on Twitter

Ubat Hate alias obat hati ungkapan dalam bahasa Aceh yang sering disematkan kepada para psikolog. Profesi yang cukup menarik ini masih jarang ditemukan di Bontang. Bahkan jumlah psikolog di Bontang terbilang sedikit.

MEGA ASRI, Bontang

Para psikolog, berusaha mempelajari peran serta fungsi mental dalam perilaku individu maupun kelompok. Selain juga mempelajari tentang proses fisiologis dan neurobiologis yang mendasari perilaku.

Karena tertarik dengan profesi sebagai psikolog, Syarifah Muslimah akhirnya memantapkan melanjutkan kuliahnya dengan mengambil jurusan psikologi di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Ketertarikannya pun berawal dari saat wanita kelahiran Banjarmasin 14 Januari 1981 silam itu mengikuti kegiatan Pesantren Kilat (Sanlat) di SMA YPK. Kala itu, Syarifah masih duduk di kelas X. Sanlat di SMA YPK mendapatkan mentor dari Salman ITB dan Unpad Bandung Fakultas Psikologi. Cara mereka mengajari murid-murid SMA YPK kala itu sangat berkesan. “Saya kagum dan senang melihat cara kakak-kakak itu membimbing kami, enak didengar dan bersahabat sekali. Wah pasti senang ya bisa jadi tempat curhat dan mengarahkan kami menjadi lebih baik,” cerita Syarifah.

Ketika duduk di kelas XII SMA, kebetulan Syarifah masuk jalur Penelusuran Bibit Unggul Daerah (PBUD). Setelah diskusi dengan orang tua dan keluarga, akhirnya dia didukung mengambil jurusan psikologi di UGM dan langsung diterima.

Baca Juga:  Berpikir Kritis, Modal MenghadapiTantangan Abad ke-21

PBUD, lebih dikenal dengan jalur undangan. Yaitu, masuk PTN melalui jalur tanpa tes lantaran diambil berdasarkan nilai rapor. Saat itu, jalur PBUD bisa diikuti oleh siswa yang masuk rangking I,II,dan III. Tetapi, tidak lantas otomatis yang daftar PBUD diterima, karena mereka akan diseleksi lagi dengan berbagai pertimbangan. “Padahal cita-cita saya sewaktu kecil berubah-ubah, dari ingin menjadi ustadzah, pernah ingin menjadi guru TK, bahkan saat SMP berniat ingin melanjutkan sekolah farmasi, tetapi tidak jadi. Barulah saat SMA mulai interest dengan psikologi,” ungkapnya.

Di Bontang sendiri, lanjut dia, para psikolog yang membuka praktek hanya baru 6 orang. Ketua Himpunan psikolog Indonesia (HIMPSI) Cabang Bontang ini juga menyatakan jumlah psikolog di Bontang masih terbilang sedikit. Bahkan, terlihat kurang eksis atau kurang dikenal karena kegiatannya jarang terpublikasi dan memang kekurangan SDM. “Organisasi ini memang lebih banyak mandiri dari segi anggaran, kegiatan rutinnya paling hanya pertemuan dalam bentuk arisan dan lainnya setiap dua bulan sekali,” ujarnya.

Untuk bidang pendidikan, sebenarnya HIMPSI banyak bekerjasama dengan sekolah-sekolah. Terlebih saat momen penerimaan seleksi siswa baru. Sedangkan di bidang kesehatan, HIMPSI juga bekerja sama dengan Klinik Sejati (Sehat Jiwa Anti Nafza) yang baru di-launching beberapa waktu lalu. “Kami juga ada jadwal siaran setiap hari Selasa di Radio Buana,” ujar dia.

Baca Juga:  Melenggang ke Kompetisi Internasional, Ramayanti Asmara Mahasiswi asal Bontang Butuh Bantuan Donatur 

Menjadi seorang psikolog, membuat Syarifah banyak mendapat pengalaman berharga. Salah satunya ketika dirinya bekerjasama dengan salah satu perusahaan saat proses seleksi karyawan. Diceritakannya, ada beberapa calon karyawan yang izin ke toilet namun ternyata tidak kembali lagi. Menurutnya, itu merupakan pengalaman lucu ketika dirinya memberikan tes psikotes pada seleksi karyawan. Ada juga pengalaman ketika menangani tes anak-anak berkebutuhan khusus (ABK). “Banyak anak yang hiperaktif, bahkan asisten saya sampai dicubit. Ada juga saat tes izin beli pentol dan lain-lain, sementara ada juga yang tidak mau bicara sama sekali,” kenang dia sambil tertawa.

Yang paling mengesankan buatnya, saat Syarifah bertugas menangani korban gempa bumi di Pidie Jaya Aceh. Kala itu, pihaknya berkolaborasi dengan tim kesehatan dari Dinas Kesehatan Aceh, bersama dokter, perawat, psikiater, psikolog, apoteker, dokter spesialis dan lainnya. “Waktu itu Desember 2016. Seminggu setelah gempa, saya bersama mufidah dari HIMPSI Bontang, pergi ke Aceh bersama,” urainya.

Sehari menangani konseling disana, bisa mencapai 40 pasien, hanya bisa tidur sebentar dan tetap waspada karena khawatir terjadi gempa susulan. Saat konseling dengan pengungsi yang notabene-nya korban gempa, banyak dari mereka yang belum paham profesi psikolog. Biasanya, para korban, setelah konseling masih sering meminta obat, karena psikolog masih dianggap sebagai dokter. “Akhirnya, kami jelaskan bahwa kami berupaya mengobati hati dan perasaan yang masih takut atau trauma akibat gempa, ubat hate kalau dalam bahasa Aceh, akhirnya mereka bisa mengerti,” paparnya.

Baca Juga:  BAHASA SEBAGAI IDENTITAS BANGSA

Selain bisa meraih profesi yang diminatinya yakni menjadi psikolog, Syarifah juga merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Dinas Pendidikan (Disdik) Bontang. Dia bercerita, saat masih praktik di RS PKT tahun 2005 lalu dirinya ikut tes CPNS. Ketika itu, dia belum lulus profesi psikolog. “Tes bulan November dan Alhamdulillah lulus, dipanggil masuk kerja bulan Maret setelah seminggu sebelumnya wisuda, jadi langsung kerja sebagai PNS,” tutupnya. (bersambung)

TENTANG SYARIFAH

Nama: Syarifah Muslimah S.Psi, Psikolog

TTL: Banjarmasin, 14 Juli 1981

Alamat: Jalan Gunung Bawang nomor 12 BSD RT 40 Kelurahan Gunung Elai

Nama Suami: Sayyid Mukhlis Assegaf

Pendidikan:

  • SDN 009 Loktuan
  • SMP Yabis
  • SMA YPK
  • S1 +Profesi Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada

Organisasi:

  • Layanan Psikologi Bontang Assesment Center
  • Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Cabang Bontang
Tags: kisah inspiratifwarga bontang
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Neni Evaluasi Harga dan Stok Komoditi

Next Post

Hibah Rusunawa Harus Diteken RI 1

Related Posts

Pengeluaran Warga Bontang Tertinggi di Kaltim, Capai Rp2,6 Juta Per Bulan
Bontang

Pengeluaran Warga Bontang Tertinggi di Kaltim, Capai Rp2,6 Juta Per Bulan

31 Maret 2026, 08:00
Kisah Hainun dan Gaharu “Ajaib” dari Bontang; Dulu Hanya Ilalang, Kini Jadi Produk Ekspor
Feature

Kisah Hainun dan Gaharu “Ajaib” dari Bontang; Dulu Hanya Ilalang, Kini Jadi Produk Ekspor

13 Juli 2025, 12:07
6.892 Orang Pilih Hengkang dari Bontang
Bontang

6.892 Orang Pilih Hengkang dari Bontang

31 Januari 2023, 16:08
Kisah Inspiratif Kakek Penjual Sapu Lidi: Selama Kuat, Bekerjalah
Ragam

Kisah Inspiratif Kakek Penjual Sapu Lidi: Selama Kuat, Bekerjalah

18 Desember 2020, 09:19
Di Palu, Kebaikan Menular dari Secangkir Kopi Gratis
Feature

Di Palu, Kebaikan Menular dari Secangkir Kopi Gratis

11 Januari 2019, 15:40
Kondisi Ekonomi Lumpuh, Jadi Ojek Online untuk Bertahan Hidup
Feature

Kondisi Ekonomi Lumpuh, Jadi Ojek Online untuk Bertahan Hidup

4 Desember 2018, 17:00

Terpopuler

  • 25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terbukti Cabutan dari Luar Daerah

    25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terbukti Cabutan dari Luar Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sudah Puluhan Tahun Berdiri, Perusahaan Daerah Bontang Belum Bisa Kelola Solar Nelayan Sendiri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seng Penutup Jalan Gotong Royong Dibongkar Paksa, Wali Kota Neni; Fasilitas Publik Tidak Boleh Ditutup

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bontang Berharap Masuk Daftar Penerima Tambahan Dana Rp20,5 Triliun dari Pusat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Empat Hari Diburu, Maling Motor Petani Marangkayu Ditangkap di Tanjung Laut Indah Bontang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.