Perjalanan Jafar Haruna sebagai akademisi nampaknya lengkap sudah. Mengawali karier sebagai guru SD, keseriusan mendidik anak-anak bangsa membawanya pada gelar guru besar. Dengan niat pengabdian, Jafar melenggang ke Karang Paci membawa aspirasi rakyat bumi etam.
LUKMAN MAULANA, Samarinda
Pengabdian menjadi kata kunci dalam peran Jafar sebagai guru besar. Bergelar profesor, Jafar menyadari ilmunya diperlukan menjawab persoalan-persoalan yang berkembang di masyarakat. Karena itu di luar aktivitasnya sebagai seorang dosen, Jafar melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan luar kampus yang berimplikasi terhadap masyarakat.
“Pengabdian sebagai dosen di universitas terbatas pada mendidik mahasiswa. Karenanya saya berkeinginan terjun langsung ke masyarakat sesuai kemampuan yang saya miliki,” kata Jafar.
Niat tulus itu kemudian diterjemahkan dengan terlibat dalam proyek manajemen peningkatan mutu pendidikan di Kaltim. Dalam rentang 1998-2000, Jafar menjadi konsultan pada proyek yang merupakan bantuan dari Asian Development Bank (ADB). Kaltim menjadi satu dari lima provinsi yang mendapat proyek ini. “Provinsi lainnya yaitu Sumatera Barat, Jawa Barat, Bali, dan Sulawesi Tenggara,” terangnya.
Lepas dari proyek ADB tersebut, Jafar kembali ke lingkungan kampus. Dia diangkat menjadi kepala jurusan Pendidikan Bahasa di FKIP Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda. Bukan hanya di Unmul, Jafar juga menjadi ketua harian pada Yayasan Pendidikan Sumber Mas Samarinda yang dilakoninya dari 2000 hingga 2004.
“Saya memimpin di Sumber Mas sampai yayasan itu mencapai puncaknya,” kenang alumnus doktor Universitas Padjajaran Bandung ini.
Di waktu bersamaan, Jafar terpilih sebagai Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kaltim di tahun 2003. Praktis ada tiga kantor yang mesti dia jaga secara berbarengan. Meski begitu, Jafar mampu berkiprah di tiga lembaga tersebut tanpa ada yang terabaikan. Kata dia, kuncinya ada pada bagaimana mengatur waktu di antara tiga tugas yang diembannya.
“Harus bisa mengatur waktu dengan baik. Jangan sampai waktu yang mengatur saya,” tuturnya.
Kehadiran Jafar di lembaga penyelenggara pemilu tersebut awalnya sempat dipandang remeh oleh banyak pihak. Bahkan Jafar sendiri juga merasa ragu saat menjalankan tugas sebagai komisioner KPU. Pasalnya, latar belakang Jafar bukanlah dari ilmu pemerintahan maupun ilmu politik. Melainkan dari pendidikan bahasa.
“Tapi saya berpikir bahwa semua ilmu pengetahuan membutuhkan bahasa dalam penyampaiannya. Maka saya benar-benar menggunakan ilmu saya agar bisa melancarkan setiap pekerjaan saya waktu itu di KPU,” ungkap Jafar.
Kenyataannya, pelaksanaan setiap pemilu di Kaltim di bawah kepemimpinan Jafar di KPU kala itu berjalan lancar. Menjabat ketua KPU Kaltim mulai 2003 hingga 2008, serangkaian pesta demokrasi telah dikawalnya. Mulai dari pemilu legislatif (pileg) dan pemilu presiden (pilpres) 2004, hingga pemilu gubernur (pilgub) pertama di Kaltim tahun 2008.
Jafar mengurai, selama rentang lima tahun tersebut banyak suka dan duka yang telah dilaluinya. Pengalaman di KPU menurutnya merupakan yang paling berkesan di luar kiprahnya sebagai akademisi. “Hampir setiap hari saya didemo massa. Saya senang saja dan tidak pernah menghindar. Selalu saya temui untuk mencari jalan keluar. Asalkan demonya tidak brutal,” bebernya.
Dia menyebut, penyelenggaraan pilgub pertama di Kaltim kala itu begitu rumit. Namun Jafar bersama rekan-rekannya di KPU mampu menyelesaikan setiap masalah yang terjadi. Sepanjang yang dilakukan sesuai prosedur dan tidak melanggar peraturan yang berlaku, Jafar tak gentar menghadapi pihak-pihak yang tidak menerima keputusan KPU.
Termasuk saat KPU Kaltim memutuskan pilgub tahun 2008 berlangsung dua putaran. Dalam pilgub yang diikuti empat kandidat itu, ada pasangan calon yang tidak terima dengan keputusan tersebut. “Saya sampai disebut guru besar yang tidak tahu aturan. Tapi faktanya, ketika diajukan ke Mahkamah Agung, keputusan saya benar,” jelas kakek delapan cucu ini.
Setelah tak lagi menjabat di KPU, Jafar kembali ke kampus. Meski begitu, hasratnya untuk mengabdi pada masyarakat secara luas belum mati. Setelah merasakan menjadi penyelenggara, Jafar melangkah menjadi peserta pemilu. Dengan tujuan menjadi wakil rakyat di DPRD Kaltim, dia mendaftarkan diri sebagai calon anggota legislatif (caleg) dalam Pemilu 2014.
“Partai Demokrat jadi pilihan saya karena memiliki visi dan misi yang menurut saya tepat bagi masyarakat,” papar Jafar.
Ayah enam anak ini menyadari, keputusannya terjun ke politik punya dampak pada status sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di universitas. Untuk itu, Jafar mantap memutuskan pensiun dini tertanggal 1 Maret 2011.
Walaupun pensiun, pengalamannya sebagai guru besar rupanya masih dibutuhkan. Sehingga Jafar ditarik kembali untuk mengajar di FKIP dengan status guru besar luar biasa. Tidak hanya di Unmul, Jafar juga diminta mengajar di Universitas Tujuh Belas Agustus 1945 (Untag) Samarinda. Selain mengajar pancasila dan sosiologi politik, dia termasuk dalam daftar senat guru besar di Untag.
“Sebagai guru besar, saya juga masih diminta menjadi penguji pada beberapa perguruan tinggi apabila ada promosi doktor. Seperti di Universitas Negeri Jakarta dan Universitas Negeri Makassar,” tutur lulusan Lemhanas PPSA Angkatan 15 ini.
Langkah Jafar menuju Karang Paci, sebutan DPRD Kaltim sendiri tidaklah berjalan mulus. Dalam Pemilu 2014, dia gagal menjadi legislator. Perolehan suara yang dikumpulkan hanya mampu menempatkan Jafar di peringkat kedua. Baru dua tahun kemudian tepatnya 16 Maret 2016, Jafar duduk di Fraksi Partai Demokrat DPRD Kaltim lewat pergantian antar waktu (PAW) menggantikan Ichruni Lufti Sarasakti yang mangkat karena sakit.
“Kalau dari segi usia, saya yang paling senior. Tapi kalau kiprah di DPRD Kaltim, saya yang paling muda,” kelakar Jafar.
Sebagai anggota dewan, pria yang karib dipanggil profesor ini berusaha semaksimal mungkin menyerap aspirasi masyarakat Kota Tepian yang dia wakili. Menurut Jafar, yang dibutuhkan Samarinda saat ini di antaranya infrastruktur, sarana transportasi, air bersih, dan juga listrik. Kata dia, masyarakat merindukan adanya jalanan yang baik dan layak dilintasi serta tidak macet.
“Masyarakat juga menginginkan lingkungan yang bersih dan tidak banjir,” imbuh anggota Komisi I DPRD Kaltim ini.
Meskipun usia tak lagi muda, Jafar mengaku terus belajar berbagai hal baru. Misalnya terkait permasalahan infrastruktur yang bukan merupakan spesialisasinya. Ilmu dan pengetahuan baru pun didapatkannya melalui kegiatan diskusi dengan rekan-rekannya di legislatif. “Prinsip saya, belajar itu tidak ada batasannya,” pungkas pria kelahiran Jeneponto, 66 tahun lalu ini. (***)
TENTANG JAFAR
Nama: Profesor Dr HM Jafar Haruna MS
TTL: Jeneponto, 19 Februari 1951
Istri: Hj Nuraini
Anak:
- Fadli Mulyadi
- Farni Sutriany
- Fahri Zulhijaz
- Fardi Parawansa
- Fatmi Yaumil Akhir
- Fahriani Istiqamah
Pendidikan:
- SD Negeri Jeneponto (lulus 1964)
- SMP Negeri Jeneponto (lulus 1967)
- SPG Muhammadiyah Makassar (lulus 1970)
- Sarja Muda (BA) IKIP Makassar (lulus 1974)
- Sarjana Lengkap (Drs) IKIP Makassar (lulus 1982)
- S2 Unhas Makassar (lulus 1989)
- S3 Unpad Bandung (lulus 1996)
Kursus:
- Lemhanas Angkatan 15 PPSA 2007
Alamat: Kompleks Dosen Unmul Jalan Rumbia Nomor 2 Samarinda







