SUTRISNO Wiro (61) akhirnya menunaikan janjinya berjalan kaki dari Bontang ke Samarinda, Sabtu (27/1) kemarin. Nazar ini pernah diutarakannya sebelum Rusmadi memutuskan mencalonkan diri sebagai salah satu kandidat di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Kaltim. Ia pernah sesumbar di hadapan awak media, jika Rusmadi mencalonkan diri maka ia akan berjalan kaki dari Bontang ke Samarinda.
“Saya tunaikan nazar ini, sebagai komitmen menjalankan amanah yang pernah saya ungkapkan. Mudah-mudahan dengan ini, Pak Rusmadi menang dan amanah menjalankan tugas,” kata Sutrisno disambut tepuk tangan pendukung Rusmadi-Safaruddin.
Demi memenuhi nazarnya, Sutrisno harus berjalan kaki sepanjang 131 kilometer dari Kota Taman menuju Kota Tepian. Ia memulai perjalanan pada Jumat (26/1) pukul 07.30 pagi. Selama perjalanan, ia menghabiskan waktu selama 28 jam hingga sampai di Samarinda.
Kemarin ketika sampai di rumah pemenangan Rusmadi-Safaruddin di Jalan Bhayangkara, dia disambut bak pahlawan yang telah menunaikan tugas besar. Arak-arakan dilakukan menyambut Sutrisno. Ada pula tarian tradisional Jawa, Reog Ponorogo, dan nyanyian tradisional Jawa.
“Saya sangat senang bisa menunaikan nazar ini. Doa saya terkabul, Pak Rusmadi mencalonkan diri sebagai gubernur. Saya menganggap ini perjalanan biasa, walaupun sebenarnya menempuh perjalanan ini tidak mudah,” katanya.
Saat sampai di Jalan Bhayangkara, ratusan orang berdiri di bawah terik matahari dengan penuh harap cemas. Dari jarak 500 meter, Sutrisno dan rombongan diikuti mobil ambulance dan mobil polisi.
Ia mengenakan celana pendek berwarna hitam dan kaos hitam. Ketika sampai di depan gerbang rumah pemenangan psangan calon gubernur dan wakil gubernur Rusmadi-Safaruddin, bersama rombongan yang mengikutinya, ia bersujud syukur.
Salah satu relawan yang memiliki dedikasi tinggi itu mengisahkan, dia memenuhi nazar ini tanpa terlebih dahulu diketahui istri dan anak-anaknya. Tujuannya, ia takut niat baiknya disalah artikan keluarganya.
“Mungkin di perjalanan saya dikira orang gila. Ada pengendara mobil batu bara yang meminta saya menumpang, tapi saya tolak. Karena saya berjalan kaki bukan karena tidak ada mobil,” ungkapnya.
Selama berjalan, sepatu Sutrisno pernah rusak dua kali. Sesekali ia istirahat dan bermalam di masjid. Ia hanya makan seadanya. Di jalan, dia menemukan banyak kecelakaan, bahkan ada korban yang meninggal dunia.
“Saya hanya berjalan sendiri. Jadi santai saja. Malam hari saya pernah melihat sesuatu yang aneh, tetapi ini biasa, saya tidak merasa takut. Kalau boleh dibilang itu hantu, tapi saya sudah biasa dengan yang begituan,” ucapnya.
Rurul Yulya Risa, istri Sutrisno, mengaku tidak tahu soal perjalanan jauh yang ditempuh suaminya. Beberapa kali teman-teman dan relawan Rusmadi menanyakan keberadaanya suaminya, tapi ia mengaku tidak mengetahuinya.
“Baru Jumat sore saya dikasih tahu anak saya kalau bapak menunaikan nazarnya berjalan kaki dari Bontang ke Samarinda. Awalnya saya kira mengikuti kegiatan Ikapakarti, makanya saat mendengar itu saya merasa cemas,” katanya.
Namun demikian, setelah melihat kedatangan suaminya, Rurul merasa bangga karena Sutrisno dengan gagah menjalankan nazarnya. “Ini adalah spirit yang luar biasa yang bapak tularkan, supaya relawan yang lain ikut semangat memenangkan Pak Rusmadi,” harapnya. (*/um)







