• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Kaltim

Tambang Dulu Tahura, Ibu Kota Setelahnya

by M Zulfikar Akbar
14 Mei 2019, 16:00
in Kaltim
Reading Time: 4 mins read
0
BANYAK YANG DIRUGIKAN: Lahan di kawasan Kampung Jawa, Kelurahan Margomulyo, Samboja, yang ditambang, Sabtu (11/5). Selain masuk Tahura Bukit Soeharto, penambangan ini dekat Waduk Samboja.ROMDANI/KALTIM POST

BANYAK YANG DIRUGIKAN: Lahan di kawasan Kampung Jawa, Kelurahan Margomulyo, Samboja, yang ditambang, Sabtu (11/5). Selain masuk Tahura Bukit Soeharto, penambangan ini dekat Waduk Samboja.ROMDANI/KALTIM POST

Share on FacebookShare on Twitter

SAMBOJA–Gubernur Kaltim Isran Noor mengusulkan Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto, Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara (Kukar), sebagai lokasi ibu kota negara pengganti Jakarta. Kondisi itu menuai penolakan dari berbagai kalangan. Kerusakan hutan jadi salah satu alasan. Namun pertanyaannya, apakah tahura benar-benar masih hutan? Faktanya penambangan ilegal menjamur di hutan konservasi itu.

Kaltim Post kembali menelusuri jejak penambangan ilegal di kawasan Kampung Jawa, Kelurahan Margomulyo, Kecamatan Samboja, Sabtu (11/5). Masuk ke sebuah jalan tambang dari Jalan Poros Samboja-Balikpapan tak perlu jauh untuk menemukan tumpukan batu bara.

Pintu masuk tidak jauh dari Polsek Samboja. Juga banyak pompa minyak milik Pertamina. Masuk sekitar 1 kilometer dari jalan poros, terdapat belasan dump truck dan beberapa truk peti kemas parkir. Tumpukan batu bara menggunung di kawasan itu. Sejumlah pekerja sibuk memasukkan batu bara ke karung.

Masuk lagi sekitar 2 kilometer, ditemukan dua ekskavator tengah berhenti dari aktivitas. Ada beberapa pekerja yang berjaga-jaga di sana. Seorang pekerja menyebut, kawasan itu berada di Kampung Jawa. “Alat (ekskavator) lagi bermasalah. Jadi, kami masih berhenti menunggu perbaikan,” ucapnya.

Dari pantauan media ini, terlihat tanah telah dikelupas. Sehingga batu bara terliat. Tanah yang tadinya bukit berubah jadi cekungan karena dikeruk. Untuk diambil batu baranya. “Ini lahan baru ditambang sekitar sepekan belakangan,” ujar pekerja.

Dari citra satelit yang diperoleh Kaltim Post, kawasan yang ditambang itu masuk Tahura Bukit Soeharto. Dengan titik koordinat 117 1’53 2’E 1’ 1’25 8 S. “Kalau dilihat dari citra satelit, titik koordinat ini masuk tahura,” ucap seorang sumber di Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltim kemarin.

Sementara itu, dari kejauhan sekitar 1 kilometer dari lokasi ini, terdapat empat ekskavator tengah bekerja. Mereka melakukan penambangan batu bara. Media ini terus menyusuri sampai Waduk Samboja. Ditemukan sejumlah penambangan batu bara yang diduga ilegal. Keberadaan tambang ilegal itu sangat mengkhawatirkan bagi kualitas air waduk. Padahal, air waduk menjadi sumber baku air PDAM.

Dari sumber media ini di Samboja, penambangan batu bara di Margomulyo itu sudah berjalan bertahun-tahun. Kerap berhenti, namun kembali ditambang. “Orang yang menambang ya itu-itu saja. Paling bosnya yang berubah,” ungkapnya. Ekskavator yang beroperasi di lokasi tambang diperkirakan mencapai 30 unit. “Semuanya (lokasi tambang) bisa dikata masuk tahura,” sambungnya.

Baca Juga:  Satu Pekerja yang Terseret Longsor Ditemukan Meninggal di Lubang Tambang

Seorang penambang di lokasi mengakui, penambangan batu bara masuk Tahura Bukit Soeharto. Namun, dia mengaku hanya sebagai penambang. Sementara ada pihak lain yang mengurus administrasinya. “Saya hanya menambang. Tapi untuk urusan di atas (ke pemerintah) ada lagi yang mengurusi,” ucap pria yang enggan namanya dikorankan itu.

Dikonfirmasi Kaltim Post, Kepala UPTD Tahura Bukit Soeharto Rusmadi mengakui kawasan tahura ditambang. Biasanya oknum penambang kerap kucing-kucingan dengan aparat. Terutama saat petugas melakukan razia atau penertiban di lokasi. “Tahura itu sudah rusak sejak lama,” sebutnya saat ditemui di kantornya kemarin.

Pria yang akrab dengan media itu tak segan untuk mengajak wartawan dalam patroli. “Biar masyarakat itu tahu. Niat saya mau memperbaiki yang rusak,” ujarnya. Perihal temuan aktivitas tambang batu bara di kawasan Kampung Jawa, Kelurahan Margomulyo, Rusmadi sempat menunjukkan surat yang baru masuk. “Besok (hari ini) anggota akan mengecek,” ujarnya sembari menunjukkan laporan dari pertemuan tersebut.

Kejahatan lingkungan yang sudah terjadi cukup lama, disebutnya bukan tidak ditindak. “Pelan-pelan kami membenahi,” ucapnya dengan nada pelan sembari tangan memegang kepala.

Sudah beberapa kali pula UPTD Tahura melakukan penindakan khusus. Disebut Rusmadi, metodenya sedikit diubah. Jika mendapat informasi langsung bergerak, kini tidak. UPTD melibatkan POM, Polda Kaltim, dan Gakkum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Secara tegas dia menyebut, apapun bentuk tambang di area tahura, itu tidak benar. Menjelaskan lebih jauh, tentang operasi yang hanya dilakukan jajarannya.

UPTD Tahura sering dianggap dagelan oleh pelaku mafia emas hitam. “Cuek saja mereka. Enggak bisa juga kami melawan, karena tidak dilengkapi senjata,” tuturnya. Berbeda jika patroli bersama instansi lain. “Tapi sering bocor. Heran juga,” ungkapnya.

Baca Juga:  Air Kolam Bekas Tambang Mengandung Logam Berat

Padahal, operasi bersama itu kerap tak diketahui arahnya. Jadi, yang banyak ditemui hanya alat berat untuk pengupasan atau mengeruk batu bara. Menjadi catatan, yakni perihal luasan Tahura Bukit Soeharto. Berdasarkan Surat Keputusan (SK) Menteri LHK Nomor 270 Tahun 1991, luas tahura sekitar 61.850 hektare. Pada 2009, diperluas menjadi 67.766 hektare sesuai SK Nomor 577. Nah, pada 2017, SK Nomor 1231, mengecil menjadi 64.814,98 hektare luasnya.

“Jadi kalau tambang yang beroperasi punya izin, dilihat dulu. Kalau di atas 2009 sudah tentu ilegal,” tegasnya. Bahkan, pihaknya kerap memasang pelang pemberitahuan agar tidak dilakukan aktivitas pertambangan. Faktanya, lanjut Rusmadi, tanda itu bak hilang ditelan bumi.

Temuan awak media dan laporan warga sekitar, kerap sampai ke telinga. “Dilema juga kami mau menangani. Alat berat yang sitaan kemarin saja enggak jelas bagaimana penyelesaiannya,” sambung dia. Menurutnya, bukan orang sembarangan yang bisa mengakses tahura. Tidak hanya emas hitam, bahkan perkebunan sawit juga merajalela.

“Saya enggak berani sembarangan bicara. Ada yang sebut nama Luhut Binsar Panjaitan, belum tentu juga betul,” ujarnya. Rusmadi mengaku tak paham siapa saja yang bermain batu bara di tahura. “Kalau yang bermain di dalam, tidak mungkin orang sembarangan,” tegasnya.

Jika ada temuan alat berat yang digunakan untuk mengeruk batu bara, tidak boleh disita, lantaran masuk daerah konservasi. Satu-satunya jalan dihancurkan. Minimnya personel dikeluhkan Rusmadi. Hingga kini, pegawai UPTD Tahura sekitar 30 orang. Menurut dia, untuk mengawasi hutan seluas puluhan ribu hektare perlu 200–300 pegawai.

Perihal pemindahan ibu kota negara ke tahura, Rusmadi enggan berkomentar. “Kewenangannya pusat itu, kami di UPTD ini hanya anak buah, yang menjalankan perintah,” ujarnya. Terlebih, Gubernur Kaltim Isran Noor merekomendasikan tahura sebagai daerah yang bisa dijadikan pusat ibu kota.

Dikonfirmasi terpisah, mengenai aktivitas tambang di Tahura Bukit Soeharto, Kepala Bidang Mineral dan Batu Bara, Dinas ESDM Kaltim Baihaqi Hazami menyebut, belum mendapat jelas terkait kegiatan pertambangan di area hutan konservasi tersebut. “Ada bagian khusus terkait itu (tambang di tahura),” ujarnya.

Baca Juga:  Terkait Oknum Pejabat Bermain Tambang Ilegal, Dewan Ditantang Buktikan Omongan 

Harian ini mencari penjelasan ke Kepala ESDM Kaltim Wahyu Widhi Heranata. “Kalau memang ada dugaan, laporkan saja ke polisi. Nanti biasanya kami diajak untuk memastikan,” sebut pria yang akrab disapa Didit itu. Berkoordinasi dengan kepolisian adalah langkah tegas untuk perang terhadap kejahatan tambang.

Soal tambang di tahura, Kaltim Post bukan sekali-dua kali melakukan investigasi tambang ilegal. Pada 8 Juni 2016, media pernah mengunjungi penambangan batu bara di Margomulyo. Lokasinya bahkan berada di konsesi milik CV AJ, yang izinnya sudah mati. Namun belakangan Polda Kaltim bergerak dan mengamankan penambang.

Pada 17 Desember 2018, media ini juga mendatangi kawasan Waduk Samboja. Tak jauh dari waduk didapati sejumlah titik penambangan batu bara yang diduga ilegal. Sebab, kawasan yang ditambang masuk tahura. Belakangan Bareskrim menangkap penambang di sana.

Perlu diketahui, Gubernur Kaltim Isran Noor mengusulkan Tahura Bukit Soeharto menjadi lokasi ibu kota negara menggantikan Jakarta. Alasannya, lahan tahura masih cukup luas dan milik negara. Selain itu, di kawasan itu terdapat jalan tol dan akan membuat pembiayaan pendirian ibu kota semakin murah.

“Kalau saya mengusulkannya di Bukit Soeharto. Karena itu hutan milik negara dan jumlah penduduknya sedikit. Ketinggiannya jauh dari bencana banjir. Fasilitas kita, ada jalan tol, ada Bandara Internasional Sepinggan Balikpapan dan Bandara APT Pranoto Samarinda,” ungkap Isran, Selasa (30/4).

Sementara itu, dari hasil jajak pendapat yang dilakukan Tim Riset Kaltim Post dengan warga Benua Etam menunjukkan, 44,69 persen responden menyatakan Kaltim layak menjadi ibu kota negara. Sementara yang mengatakan belum layak ada 37,43 persen. Sisanya 17,88 persen menyatakan tidak layak.

Dari 179 responden itu, mereka yang menjawab tidak setuju Kaltim jadi ibu kota negara sebesar 61,45 persen. Sementara yang setuju 38,55 persen. Sejumlah alasan dikemukakan. Namun, mayoritas mereka tidak menginginkan ibu kota berada di Tahura Bukit Soeharto. Alasannya akan merusak hutan dan lingkungan. (*/dra/rom/k8/kpg)

Tags: bukit soehartoTahuratambang batu bara
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Tarif Batas Atas Tiket Pesawat Diturunkan, Hanya Berlaku untuk Maskapai Full Service

Next Post

Anggota Exco PSSI Terima Rp 10 Juta dari Manajer Persibara

Related Posts

Satgas PKH Ungkap Ribuan Hektare Lahan di Kaltim Dikuasai Ilegal, dari Sawit hingga Tambang Batu Bara
Kaltim

Satgas PKH Ungkap Ribuan Hektare Lahan di Kaltim Dikuasai Ilegal, dari Sawit hingga Tambang Batu Bara

29 Desember 2025, 20:30
Kinerja Pengawasan Tambang Kaltim Lemah, Jatam: Lubang Tambang, Pelanggaran, dan Ancaman Serius Ekologis
Lingkungan

Kinerja Pengawasan Tambang Kaltim Lemah, Jatam: Lubang Tambang, Pelanggaran, dan Ancaman Serius Ekologis

28 Desember 2025, 13:22
Rencana Ketahanan Pangan Kaltim Jajaki Pertanian di Lahan Bekas Tambang Jadi Sorotan
Lingkungan

Pokja 30 Desak Moratorium Tambang di Kaltim, Soroti Reklamasi dan Transparansi

30 November 2025, 14:58
Di Balik Geliat Tambang Kutim; 37 Ribu Warga Masih Miskin, Hidup di Bawah Rp1 Juta Sebulan
Kaltim

Di Balik Geliat Tambang Kutim; 37 Ribu Warga Masih Miskin, Hidup di Bawah Rp1 Juta Sebulan

25 Juli 2025, 19:03
Wapres Gibran Datangi Posko Warga Kaltim Penolak Hauling Batu Bara di Jalan Nasional
Kaltim

Wapres Gibran Datangi Posko Warga Kaltim Penolak Hauling Batu Bara di Jalan Nasional

16 Juni 2025, 10:19
Wali Kota Andi Harun Tetapkan Samarinda Darurat Bencana
Kaltim

Matangkan Skema Pengendalian Banjir di Samarinda, Andi Harun Kunci RTRW Bebas Pertambangan

11 Juni 2025, 07:44

Terpopuler

  • Jalan yang Dibangun dengan APBD Rp13 Miliar Ditutup Seng, Warga Kampung Gotong Royong Bontang Terdampak

    Jalan yang Dibangun dengan APBD Rp13 Miliar Ditutup Seng, Warga Kampung Gotong Royong Bontang Terdampak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seng Penutup Jalan Gotong Royong Dibongkar Paksa, Wali Kota Neni; Fasilitas Publik Tidak Boleh Ditutup

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabar Jasad Bayi Ditukar Bantal Gegerkan Warga Bontang, Polisi Lakukan Penelusuran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Polisi Pastikan Isu Jasad Bayi Ditukar Bantal di Bontang Rekayasa, Perempuan Akui Tak Hamil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Akses Jalan Gotong Royong Ditutup, Warga Klaim Belum Terima Ganti Rugi Lahan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.