• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Feature

Tekuni Pekerjaan, Bangga Lapas Bontang jadi Tempat Study Banding

by BontangPost
17 Maret 2017, 12:50
in Feature
Reading Time: 4 mins read
0
Heru Yuswanto (MEGAASRI/BONTANG POST)

Heru Yuswanto (MEGAASRI/BONTANG POST)

Share on FacebookShare on Twitter

Kisah Inspiratif  Warga Bontang: Heru Yuswanto (195)

Tak pernah bermimpi menjadi Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas), putra daerah yang berasal dari Pelaihari, Kalimantan Selatan (Kalsel) ini sukses memimpin Lapas kelas III Bontang dengan konsep humanis. Tanpa ada kerusuhan di Lapas, maupun ketegangan di dalam ruang tahanan.

Mega Asri, Bontang

Terlahir dari orang tua dengan ekonomi sederhana 44 tahun silam, Heru merupakan anak bontot dari 5 bersaudara. Ayahnya yang merupakan seorang PNS, kehabisan biaya menyekolahkan kakak-kakaknya. Setelah lulus SMA, karena merasa orang tuanya sudah tak mampu menyekolahkannya ke jenjang lebih tinggi, Heru mencoba mencari beasiswa.

Memiliki cita-cita awal sekolah di Akademi Militer, namun kemudian dirinya mengubur dalam cita-cita tersebut. Hingga akhirnya “kecantol” di Akademi Ilmu Pemasyarakatan (AKIP). “Cita-cita saya, bisa meneruskan sekolah tanpa biaya, dua kali daftar tidak pernah diterima, akhirnya tahun ketiga, saya diterima di AKIP tanpa uang sepeser pun,” akunya mengawali perjalanannya hingga sukses menjadi Kalapas.

Heru mengaku, sejak SMA, dirinya sudah aktif dalam berbagai organisasi. Bahkan, dirinya selalu menjadi ketua OSIS, mengikuti jambore, pramuka, marching band yang pernah meraih juara 1 di Kabupaten Tanah Laut Provinsi Kalimantan Selatan.

Tahun 1995 masuk AKIP dan lulus tahun 1998 langsung ditempatkan bekerja di Lapas Martapura, Kalsel. Tak puas dengan ilmu D3 dari AKIP, Heru lantas mencari keberuntungan untuk kuliah S1 dan mencari beasiswa di Kementerian Hukum dan HAM.

Setelah diterima di STIA Bina Banua Banjarmasin, saat lulus Heru langsung mendapat promosi jabatan. Menjabat selama satu tahun, dirinya mencari lagi beasiswa untuk melanjutkan pendidikan S2 di Unhas dan UI. Diterima di UI dengan mengambil jurusan psikologi kriminal. “Saya sebenarnya kurang sreg dengan hukum, karena saya hobi bergaul, makanya saya ambil jurusan psikolog, dan saya dapat beasiswa full dari kementerian,” ujarnya.

Setelah lulus S2, Heru kemudian ditempatkan bekerja di Rumah Tahanan (rutan) Pondok Bambu Jakarta Timur. Dirinya juga dipromosikan sebagai Kasubsi Registrasi Lapas Narkotika Jakarta. “Saat itu, Lapas narkotika di Cipinang itu baru berdiri dengan jumlah warga binaan sebanyak 3 ribu orang, saya menjabat selama 4 bulan langsung dipromosikan menjadi kepala keamanannya,” ungkapnya.

Baca Juga:  Berbagi Cerita dengan Tri Murti Rahayu, Karo Humas Pemprov Kaltim;Kembangkan Sistem Berbasis IT, Berita Hoax Jadi Tantangan

Karena merasa berasal dari daerah, Heru merasa bingung saat ditempatkan di Jakarta. Tetapi, karena basic dari psikologi, maka dirinya mencoba membiasakan bertemu banyak orang dengan berbagai karakter. Dan mulai bersikap santai, serta menganggap warga binaan sebagai sahabat, bukan nara pidana (napi). “Selama di sana, duka yang saya alami jika ada kerusuhan antar club hingga membuat korban tewas. Di Cipinang juga, saya menangani berbagai mantan pejabat, preman, menteri dan pengusaha,” bebernya.

Baginya, pegawai Lapas dianggap sebagai ‘manusia setengah dewa’. Karena secara tidak langsung, semua pegawai Lapas dituntut bisa menguasai segala bidang. Baik sebagai guru, sebagai ustaz, sebagai konselor, bahkan harus bisa menjadi teman bagi para warga binaan. Semuanya merupakan tuntutan pekerjaan.

Pengalaman selama di Cipinang pun, dia pakai untuk menangani beragam karakter orang. Akhirnya, Heru mendapat promosi sebagai kepala Rutan termuda pada usia 35 tahun di Rutan Landak Kalimantan Barat (Kalbar). “Dari awalnya menangani 3 ribu warga binaan, di Rutan Landak, hanya terdapat 37 orang dengan petugas sebanyak 2 orang,” ujarnya.

Dua petugas tersebut, kenang dia, terlihat sangat stres menjaga 37 warga binaan. Awal menjabat, suasana tegang masih terasa. Namun lambat laun, Heru mencoba mengubahnya dengan konsep humanis.

Jadi yang sudah divonis sebanyak 20 orang tersebut, dia coba mengeluarkannya dari Rutan untuk melakukan kegiatan positif, mulai dari lari pagi, atau mencari singkong. “Kami coba buktikan bahwa mereka merupakan sahabat dan saudara kami, karena jika napi dijaga ketat, mereka selalu ingin mencari celah untuk keluar,” terang dia.

Sehingga, saat para warga binaan dianggap sebagai teman dan sahabat, mereka tidak akan pernah berpikir untuk melarikan diri. Akhirnya, para petugas mulai berinteraksi dengan tetap menjaga keamanan. “Meskipun mereka dikeluarkan, kami sudah siapkan strategi pengamanannya,” sebut dia.

Baca Juga:  Kisah Inspiratif Warga Bontang: Endah Sri Wahyuni (298); Fokus Majukan Pendidikan dan Ekonomi Lewat ‘Aisyiyah

Menjabat selama 10 bulan, Heru dipindah menjadi Karutan Rantau di Kalsel. Karena merupakan kampung halaman, pria bertubuh gempal tersebut merasa kerasan dengan suasananya yang agamis. Empat tahun menjabat, Heru kemudian dicari orang pemerintah pusat dan diminta keluar dari Kalsel. “Belum tahu mau dipindah kemana, tetapi saya selalu berdoa, jika amanat tersebut cocok dan berkah maka berikan yang terbaik, tetapi saya ditempatkan dimana pun siap, tanpa jabatan pun saya siap,” tegasnya.

Juni 2016, Heru ditunjuk untuk menjadi Kalapas Kelas III Bontang. Belum genap setahun di Bontang, Heru merasa begitu cinta dengan suasana serta masyarakat Bontang. Pasalnya, Pemkot Bontang terbilang sangat peduli dan sudah banyak laporan ke pusat bahwa Lapas Bontang dapat rekomendasi dari Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni untuk peningkatan kelas menjadi Lapas Kelas II. “Saat ini prosesnya memang masih penggodokan, tak hanya itu, Lapas Bontang ditunjuk sebagai tempat untuk study banding,” ucapnya bangga.

Meskipun, Heru sendiri merasa bingung apa yang bisa dijadikan study banding. Tetapi, dirinya menerkanya mungkin dari program, gebrakan, serta komunikasi yang baik dengan Pemkot Bontang, tokoh masyarakat, anggota DPRD Bontang dan FKPM lainnya. Tak hanya itu, Lapas Kelas III Bontang yang sudah over kapasitas dengan 2 petugas masih bisa menjaga suasana yang kondusif dan tanpa kerusuhan. “Walaupun ada pemberitaan miring tentang Lapas Bontang, saya tidak akan marah, tetapi itu justru menjadi koreksi buat saya,” ungkapnya.

Selama menjadi Kalapas Bontang, Heru lebih banyak merasakan sukanya. Untuk dukanya, dia menyatakan hanya karena posisi rumah dinas yang jauh ke pusat Kota Bontang. Namun dirinya bersyukur, sang istri bisa mengerti, walaupun hanya satu bulan sekali ke pusat Kota Bontang.

Baca Juga:  Cerita Hamdani Jadi Seniman di Kota Tepian (1); Berawal dari Nonton Mamanda, Geluti Seni Panggung dan Sastra

Kepedulian Pemkot Bontang terhadap Lapas Bontang merupakan anugerah baginya. Pasalnya, Heru mengaku tak pernah menemukan pemerintah yang peduli kepada warga binaan di daerah lain.

Sementara di Bontang, pemerintahnya masih mengakui bahwa warga binaan masih merupakan warganya, termasuk kepedulian instansi lain, perusahaan dan anggota DPRD Bontang. “Untuk timbal baliknya, kami pun berusaha memberikan kegiatan yang positif dan menjadikan Lapas Bontang sebagai Lapas terbaik di Kalimantan Timur, untuk mengharumkan nama Bontang juga,” ungkap penghobi petualang itu.

Oleh karena itu, Heru membuka diri jika ada siapapun yang ingin mengetahui tentang Lapas Bontang. Dengan program keterampilan, ekskul untuk warga binaan anak-anak, pihaknya juga berusaha tetap bisa memberikan hak-hak anak. Bahkan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Dinas Pendidikan Bontang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Bontang akan dilakukan. “Sebenarnya kegiatannya sudah berjalan, seperti program paket, dan pojok baca, tetapi regulasinya memang belum jalan,” ujar pria dengan hobi offroad ini.

Heru hanya berpesan, siapa pun Anda, jika ingin menjadi orang sukses maka tekunilah pekerjaan dalam bidang apa pun. “Di mana kita berkarya jika dengan benar dan ikhlas, InsyaAllah akan menjadi pakarnya,” pesannya.

Meski terbilang sukses membawa Lapas menjadi yang terbaik di Kaltim, Heru masih merasa apa yang dilakukannya belum maksimal. Sebab impiannya, ingin menjadikan Lapas yang berbasis pesantren, serta membangun rumah hafidz (penghafal Alquran) di dalam Lapas masih belum terlaksana. Sementara untuk program Majelis Lapas Bontang Berselawat sudah berjalan.(***)

 

TENTANG HERU

Nama: Heru Yuswanto

TTL: Pelaihari, 14 Juni 1973

Alamat: Rumah Dinas Lapas Kelas III Bontang Jalan Prestasi, Bontang Lestari

Orang Tua: Yahya dan Ibu R Suciati

Istri: Nurazizah

Pendidikan:

  • TK Kartika Candra Kirana
  • SDN 2 Pelaihari
  • SMPN 2 Pelaihari
  • SMAN 1 Pelaihari
  • Akademi Ilmu Pemasyarakatan
  • Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Negara (STIA) Bina Banua Banjarmasin
  • S2 Psikologi Kriminal Universitas Indonesia
Tags: kisah inspiratifwarga bontang
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Sengit di Polling Online

Next Post

Badak LNG: Maju Bersama Masyarakat dan Dukung Visi Pemkot Bontang

Related Posts

Pengeluaran Warga Bontang Tertinggi di Kaltim, Capai Rp2,6 Juta Per Bulan
Bontang

Pengeluaran Warga Bontang Tertinggi di Kaltim, Capai Rp2,6 Juta Per Bulan

31 Maret 2026, 08:00
Kisah Hainun dan Gaharu “Ajaib” dari Bontang; Dulu Hanya Ilalang, Kini Jadi Produk Ekspor
Feature

Kisah Hainun dan Gaharu “Ajaib” dari Bontang; Dulu Hanya Ilalang, Kini Jadi Produk Ekspor

13 Juli 2025, 12:07
6.892 Orang Pilih Hengkang dari Bontang
Bontang

6.892 Orang Pilih Hengkang dari Bontang

31 Januari 2023, 16:08
Kisah Inspiratif Kakek Penjual Sapu Lidi: Selama Kuat, Bekerjalah
Ragam

Kisah Inspiratif Kakek Penjual Sapu Lidi: Selama Kuat, Bekerjalah

18 Desember 2020, 09:19
Di Palu, Kebaikan Menular dari Secangkir Kopi Gratis
Feature

Di Palu, Kebaikan Menular dari Secangkir Kopi Gratis

11 Januari 2019, 15:40
Kondisi Ekonomi Lumpuh, Jadi Ojek Online untuk Bertahan Hidup
Feature

Kondisi Ekonomi Lumpuh, Jadi Ojek Online untuk Bertahan Hidup

4 Desember 2018, 17:00

Terpopuler

  • Wanita di Loktuan Bontang Diringkus Polisi, Sabu Ditemukan di Pinggir Jalan

    Wanita di Loktuan Bontang Diringkus Polisi, Sabu Ditemukan di Pinggir Jalan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seng Penutup Jalan Gotong Royong Dibongkar Paksa, Wali Kota Neni; Fasilitas Publik Tidak Boleh Ditutup

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jalan yang Dibangun dengan APBD Rp13 Miliar Ditutup Seng, Warga Kampung Gotong Royong Bontang Terdampak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemadaman Listrik Ganggu Usaha Kuliner Bontang, Mesin Kopi Rusak hingga Pesanan Batal

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Akses Jalan Gotong Royong Ditutup, Warga Klaim Belum Terima Ganti Rugi Lahan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.