Kesenian tradisional membawa Hamdani bermimpi jadi seniman. Berawal dari seni teater, Hamdani menggeluti berbagai jenis seni, baik gerak maupun sastra. Kini namanya dikenal sebagai salah seorang seniman kenamaan Kota Tepian.
LUKMAN MAULANA, Samarinda
Kecintaan Hamdani pada seni bermula di usia yang sangat belia. Saat masih kecil, dia kerap menyaksikan dan mendengar pertunjukan seni tradisional khas Banjar. Di antaranya kesenian bertutur lamut yang diputar di Radio Republik Indonesia (RRI) dan seni pertunjukkan mamanda yang kala itu kerap dipentaskan. Kecintaan ini terus terbawa hingga Hamdani beranjak remaja.
“Mungkin karena sering menonton mamanda dan mendengar seni lamut. Secara tidak langsung memengaruhi hasrat saya untuk berkesenian. Setiap ada pertunjukkan seni, termasuk seni daerah lain misalnya wayang, saya selalu tertarik menyaksikannya. Padahal saya belum mengerti bahasa yang digunakan,” kenang Hamdani saat ditemui Metro Samarinda (Kaltim Post Group), Ahad (23/4) kemarin.
Saat SMA, Hamdani mulai menekuni seni dengan serius. Kala itu dia diajak seorang teman bergabung di Dewan Kesenian Daerah (DKD) Samarinda. Dia mendapatkan kesempatan berlatih teater secara dalam saat DKD Samarinda mengundang pelatih dari Bengkel Teater. Selain menekuni dunia teater, dia juga aktif mengikuti diskusi sastra di DKD Samarinda.
“Kata almarhum WS Rendra, teater itu candu. Itu terjadi pada diri saya. Jadi sejak awal tahun 1980-an saya mulai menekuni seni panggung dan sastra. Saat itu baru saya ketahui kalau ternyata ayah saya dulu juga seniman. Beliau pemain mamanda sewaktu muda,” terangnya.
Selepas SMA sebenarnya Hamdani berkeinginan melanjutkan pendidikan seni di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Namun sayangnya keinginan tersebut tidak mendapat persetujuan dari orang tuanya. Malahan Hamdani disuruh kuliah di Fakultas Kehutanan (Fahutan) Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda.
Menuruti kemauan orang tuanya, Hamdani kuliah di Fahutan. Sembari tetap melakukan kegiatan seninya di luar waktu kuliah. Namun rupanya jadwal belajar dan eksperimen yang begitu padat membuat Hamdani tak sempat berkesenian. Hal ini menimbulkan gejolak di batinnya karena tak dapat menyalurkan hasrat seni yang menggebu-gebu.
Karenanya, Hamdani memutuskan berhenti kuliah di Fahutan. Dia lantas pindah ke Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unmul. “Saya hanya satu semester di Fahutan. Setelah itu saya pindah ke FISIP, di Ilmu Pemerintahan. Waktu belajar di FISIP lebih longgar, sehingga saya masih bisa melakukan kegiatan seni,” tambah ayah lima anak ini.
Di FISIP Unmul, Hamdani bisa bebas bergerak melakukan kegiatan-kegiatan seninya. Bahkan dia pernah mewakili Unmul tampil dalam Festival Teater dan Sastra. Dia luar itu, Hamdani sering tampil dalam berbagai pentas yang digelar di Samarinda. Makanya meski menjabat Ketua Senat FISIP Unmul tahun 1982-1984, Hamdani lebih dikenal sebagai seniman kampus.
“Teman-teman mengenal saya sebagai seniman. Selain berkesenian, saya juga aktif terlibat menulis di koran kampus,” ungkap Hamdani.
Lulus kuliah, bungsu dari tujuh bersaudara ini menjadi guru honorer di SMAN 2 Samarinda tahun 1986. Bukannya mengajar ilmu-ilmu sosial, dia malah diminta mengajar kesenian teater. Ternyata popularitasnya sebagai seniman kampus terbawa hingga dunia kerja. Setelah setahun menjadi guru di sana, barulah Hamdani mengajar mata pelajaran lainnya meliputi Tata Negara dan Sosiologi.
“Saat itu saya mulai menulis naskah untuk teater dan menjadi manajer panggung untuk pagelaran sendratari massal. Saya sempat dipercaya jadi manajer panggung di pagelaran Bagong Kusudiharjo,” kisah pria yang sempat menjadi humas di Perum Husada Bakti (PHB) ini.
Tidak suka terikat kerja, di penghujung 1990 Hamdani berhenti menjadi guru. Dia memutuskan bergabung menjadi wartawan di surat kabar Manuntung (sekarang Kaltim Post). Pekerjaan sebagai kuli tinta ternyata bukan barang baru baginya kala itu. Sebelumnya dia pernah menjadi wartawan di mingguan Swara Kaltim tahun 1986.
“Selain karena saya suka menulis, menjadi wartawan membuat saya punya waktu lebih bebas dalam mengembangkan bakat seni saya. Apalagi di Manuntung saya ditempatkan di halaman seni budaya,” tutur Hamdani.
Memang selain menekuni seni pertunjukan, Hamdani juga menyukai seni sastra. Menurutnya seni tulisan dengan seni teater saling berkaitan satu sama lain. Dari dua bidang itulah, dia perlahan menjadi sutradara sekaligus penulis naskah untuk pertunjukan drama dan teater. Profesi wartawan kala itu dinilai sangat cocok menunjang jiwa seninya.
“Dua tahun di Manuntung, saya pindah ke harian Swara Kaltim. Di harian ini saya jadi redaktur seni budaya dan olahraga hingga tahun 1996,” tambah suami Deasy Selvia ini.
Sempat vakum dua tahun di profesi jurnalistik, Hamdani dipercaya menjadi pemimpin redaksi Tabloid Menara di tahun 1998. Di tabloid inilah dia bersama tabloid yang dipimpinnya sempat digugat Gubernur Kaltim kala itu, Suwarna di pengadilan. Pasalnya, berita yang dimuat tabloid ini terkait kasus korupsi sang gubernur dianggap mencemarkan nama baik.
“Kenyataannya beliau memang korupsi dan akhirnya dipenjara. Waktu itu kami digugat karena kami kurang bukti,” cerita Hamdani.
Di tahun 2002, Hamdani memutuskan berhenti dari dunia jurnalistik. Namun dia sempat diminta menjadi redaktur di majalah Eksekutor. Hingga akhirnya di tahun 2004, Hamdani mantap menjadi seniman dan penulis lepas dengan terus menekuni dunia seni yang telah membesarkan namanya.
Nama Hamdani memang begitu dikenal di dunia seni Samarinda, bahkan di Kaltim. Selain berkat karya-karyanya, Hamdani juga dikenal lewat perannya di DKD Samarinda maupun di DKD Kaltim. Di DKD Samarinda, dia sempat dipercaya menjadi ketua harian dari tahun 1995 hingga 2000. Berlanjut sebagai sekretaris umum di 2000 hingga 2006.
Setelah itu di 2006, Hamdani melanjutkan kiprahnya di DKD tingkat provinsi. Dia dipercaya menjadi sekretaris umum DKD Kaltim hingga 2012. Berlanjut dari 2012 hingga 2016, dia menjadi sekretaris dewan pertimbangan DKD Kaltim. Kemudian sejak tahun lalu hingga 2021 mendatang, Hamdani dipercaya menjabat Ketua Harian DKD Kaltim.
“Tugas saya di DKD membina kesenian berikut para senimannya. Kami menjadi mitra pemerintah yang langsung berhubungan dengan para seniman. Yang ditangani semua jenis seni, baik seni tradisional maupun seni modern,” tandas pria kelahiran Samarinda, 57 tahun lalu ini. (bersambung)







