Jumarni, penjual jamu yang melapak di pasar Sangatta Selatan, mengawali usaha kerupuk amplang ikan bulan-bulan dan amplang cumi-cumi sejak 2013 silam, dia belajar membuat kerupuk amplang dengan binaan perusahaan dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutim.
Pada tahun-tahun awal membuat kerupuk amplang, dirinya bersama suami sering kali gagal karena kerupuk mudah melempem dan juga kadang kala terlalu banyak minyak sehingga terlalu basah. Meskipun demikian, dia tetap mencoba hingga berhasil menemukan takaran yang pas untuk membuat kerupuk amplang yang renyah.
”Sekira setahun lamanya kami terus berinovasi memperbaiki produk. Setelah itu kami mulai mengurus P-IRT dan label halal. Walaupun awalnya kami harus berjuang, namun usaha tidak menghianati hasil,” ujarnya saat ditemui di kediaman yang beralamat di jalan Garuda Sangatta Selatan, Selasa (20/3).
Semakin produknya dikenali masyarakat, dirinya mulai mencoba terobosan terbaru. Kerupuk amplang berwarna hitam yang berasal dari tinta cumi-cumi. Yang dikenalkan ke masyarakat luas oleh Disperindag, dalam pameran UMKM di Penajam Paser Utara.
“Sebelum kami menjual kerupuk hitam yang bernama amplang batubara tersebut, di sejumlah toko swalayan. Kerupuk cumi-cumi itu tidak dikenali oleh siapapun. Kemudian produk tersebut dibawa oleh disperindag ke PPU. Setelah itu baru terkenal menjadi ciri khas Kutim,” paparnya.
Dari usaha menjual kerupuk amplang ini mereka mampu meningkatakan taraf hidup keluarga. Pasalnya mereka menjalani usaha hanya menggunakan tenaga keluarga mereka sendiri. Dia menceritakan terkadang merasa kesulitan saat banyak pesanan.
“Sering kali kami kewalahan, seperti puasa dan lebaran. Banyak sekali layani pesanan. Sehingga langganan tetap seperti pusat oleh-oleh Sangatta, olshabara dan swalayan lainnya terkadang tidak terlayani dengan maksimal. Karena tenaga kerja juga masih murni dari keluarga sendiri,” katanya.
Jumarni pun mengikuti beberapa pelatihan dan bimbingan yang difasilitasi sejumlah instansi pemerintah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan membuat kerupuk amplang. Bahkan dia pernah mengikuti pelatihan Gugus Kendali Mutu (GKM), juga beberapa pelatihan lainnya.
Dia mampu membuat kerupuk amplang ribuan kemasan dalam sebulan. Setiap kali membuat kerupuk, dia biasa menghasilkan 100 bungkus kerupuk amplang yang masing-masing seberat 100 gram per bungkus setiap harinya.
“Setiap hari kami membuat kerupuk, karena persediaan di toko swalayan dan pesanan online selalu ada setiap harinya,” katanya.
Kerupuk amplang ikan bulan-bulan buatannya dijual Rp 12.000 per bungkus. ”Di toko-toko harga jualnya menjadi sekira Rp 15.000 per bungkus. Harganya terus meningkat karena ikan terkadang sulit dicari jika langganan kami tidak tersedia,” jelasnya.
Ikan tersebut dibelinya dari penjual ikan langganan di pasar. Karena jika tidak memiliki langganan tetap, ia tidak akan mendapatkan persediaan ikan.
“Kami harus membuat janji untuk menjadi langganan, jika tidak kami tak akan mendapat ikan. Akan sangat sulit mencari ikan tersebut. Kami berharap ikan tidak sulit dicari, agar kami terus membuat krupuk hingga dikenal oleh masyarakat luas,” tutupnya. (*/la)







