• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Feature

Tinta Cumi Jadi ‘Batubara’, Butuh Setahun Sempurnakan Produk

by BontangPost
21 Maret 2018, 11:00
in Feature
Reading Time: 2 mins read
0
SUKSES: Jumarni memamerkan amplang batubara buatannya, dikediamannya, Selasa (20/3).(LELA RATU SIMI/SANGATTA POST)

SUKSES: Jumarni memamerkan amplang batubara buatannya, dikediamannya, Selasa (20/3).(LELA RATU SIMI/SANGATTA POST)

Share on FacebookShare on Twitter

Jumarni, penjual jamu yang melapak di pasar Sangatta Selatan, mengawali usaha kerupuk amplang ikan bulan-bulan dan amplang cumi-cumi sejak 2013 silam, dia belajar membuat kerupuk amplang dengan binaan perusahaan dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutim.

Pada tahun-tahun awal membuat kerupuk amplang, dirinya bersama suami sering kali gagal karena kerupuk mudah melempem dan juga kadang kala terlalu banyak minyak sehingga terlalu basah. Meskipun demikian, dia tetap mencoba hingga berhasil menemukan takaran yang pas untuk membuat kerupuk amplang yang renyah.

”Sekira setahun lamanya kami terus berinovasi memperbaiki produk. Setelah itu kami mulai mengurus P-IRT dan label halal. Walaupun awalnya kami harus berjuang, namun usaha tidak menghianati hasil,” ujarnya saat ditemui di kediaman yang beralamat di jalan Garuda Sangatta Selatan, Selasa (20/3).

Baca Juga:  Tak Kooperatif, Berau Dituding Dalang Masalah Terkait Tapal Batas dengan Pemkab Kutim 

Semakin produknya dikenali masyarakat, dirinya mulai mencoba terobosan terbaru. Kerupuk amplang berwarna hitam yang berasal dari tinta cumi-cumi. Yang dikenalkan ke masyarakat luas oleh Disperindag, dalam pameran UMKM di Penajam Paser Utara.

“Sebelum kami menjual kerupuk  hitam yang bernama amplang batubara tersebut, di sejumlah toko swalayan. Kerupuk cumi-cumi itu tidak dikenali oleh siapapun. Kemudian produk tersebut dibawa oleh disperindag ke PPU. Setelah itu baru terkenal menjadi ciri khas Kutim,” paparnya.

Dari usaha menjual kerupuk amplang ini mereka mampu meningkatakan taraf hidup keluarga. Pasalnya mereka menjalani usaha hanya menggunakan tenaga keluarga mereka sendiri. Dia menceritakan terkadang merasa kesulitan saat banyak pesanan.

Baca Juga:  Oknum Pegawai Desa yang Terjaring OTT Tim Saber Pungli

“Sering kali kami kewalahan, seperti puasa dan lebaran. Banyak sekali layani pesanan. Sehingga langganan tetap seperti pusat oleh-oleh Sangatta, olshabara dan swalayan lainnya terkadang tidak terlayani dengan maksimal. Karena tenaga kerja juga masih murni dari keluarga sendiri,” katanya.

Jumarni pun mengikuti beberapa  pelatihan dan bimbingan yang difasilitasi sejumlah instansi pemerintah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan membuat kerupuk amplang. Bahkan dia pernah mengikuti pelatihan Gugus Kendali Mutu (GKM), juga beberapa pelatihan lainnya.

Dia mampu membuat kerupuk amplang ribuan kemasan dalam sebulan. Setiap kali membuat kerupuk, dia biasa menghasilkan 100 bungkus kerupuk amplang yang masing-masing seberat 100 gram per bungkus setiap harinya.

“Setiap hari kami membuat kerupuk, karena persediaan di toko swalayan dan pesanan online selalu ada setiap harinya,” katanya.

Baca Juga:  Parah, Jalan Menuju Sekolah Berbasis Budaya Berlumpur

Kerupuk amplang ikan bulan-bulan buatannya dijual Rp 12.000 per bungkus. ”Di toko-toko harga jualnya menjadi sekira Rp 15.000 per bungkus. Harganya terus meningkat karena ikan terkadang sulit dicari jika langganan kami tidak tersedia,” jelasnya.

Ikan tersebut dibelinya dari penjual ikan langganan di pasar. Karena jika tidak memiliki langganan tetap, ia tidak akan mendapatkan persediaan ikan.

“Kami harus membuat janji untuk menjadi langganan, jika tidak kami tak akan mendapat ikan. Akan sangat sulit mencari ikan tersebut. Kami berharap ikan tidak sulit dicari, agar kami terus membuat krupuk hingga dikenal oleh masyarakat luas,” tutupnya. (*/la)

Tags: kisah inspiratifSangatta Post
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Jamper Minta Kejati Ungkap Kasus Korupsi

Next Post

Batik Khas Kutim Ikuti Ajang Bergengsi Nasional

Related Posts

Kisah Hainun dan Gaharu “Ajaib” dari Bontang; Dulu Hanya Ilalang, Kini Jadi Produk Ekspor
Feature

Kisah Hainun dan Gaharu “Ajaib” dari Bontang; Dulu Hanya Ilalang, Kini Jadi Produk Ekspor

13 Juli 2025, 12:07
Kisah Inspiratif Kakek Penjual Sapu Lidi: Selama Kuat, Bekerjalah
Ragam

Kisah Inspiratif Kakek Penjual Sapu Lidi: Selama Kuat, Bekerjalah

18 Desember 2020, 09:19
Di Palu, Kebaikan Menular dari Secangkir Kopi Gratis
Feature

Di Palu, Kebaikan Menular dari Secangkir Kopi Gratis

11 Januari 2019, 15:40
Tegaskan Hanya Boleh Satu KTP-el
Breaking News

Tegaskan Hanya Boleh Satu KTP-el

24 Desember 2018, 15:30
Terkait Harga TBS, Petani Sawit Pilih Gerak Sendiri
Breaking News

Terkait Harga TBS, Petani Sawit Pilih Gerak Sendiri

24 Desember 2018, 15:10
Pemkab Harus Terbuka
Breaking News

Pemkab Harus Terbuka

24 Desember 2018, 15:05

Terpopuler

  • Seng Penutup Jalan Gotong Royong Dibongkar Paksa, Wali Kota Neni; Fasilitas Publik Tidak Boleh Ditutup

    Seng Penutup Jalan Gotong Royong Dibongkar Paksa, Wali Kota Neni; Fasilitas Publik Tidak Boleh Ditutup

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jalan yang Dibangun dengan APBD Rp13 Miliar Ditutup Seng, Warga Kampung Gotong Royong Bontang Terdampak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Polisi Pastikan Isu Jasad Bayi Ditukar Bantal di Bontang Rekayasa, Perempuan Akui Tak Hamil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Akses Jalan Gotong Royong Ditutup, Warga Klaim Belum Terima Ganti Rugi Lahan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabar Jasad Bayi Ditukar Bantal Gegerkan Warga Bontang, Polisi Lakukan Penelusuran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.