bontangpost.id – Wakil Wali Kota Bontang Najirah bersama Ketua Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) RI Hasto Wardoyo, meresmikan Kampung Percontohan Penurunan Stunting sekaligus Kelas Edukasi Informatif Pencegahan Perkawinan Usia Dini (Laskar Ceria), Jumat (22/10/2021). Bertempat di Posyandu Mekar Sari, Kelurahan Berbas Pantai, Kecamatan Bontang Selatan.
Dalam sambutannya, Najirah menerangkan bahwa sesuai Perpres Nomor 72 Tahun 2021, percepatan penurunan stunting merupakan upaya mencakup intervensi spesifik dan intervensi sensitif yang dilakukan secara convergent, holistik, integratif, dan berkualitas melalui kerja sama multisektor.
Pada kesempatan itu pula, ia menyampaikan kepada semua pihak untuk berkontribusi dalam upaya penurunan stunting sebagaimana uraian dalam strategi nasional percepatan penurunan stunting. Adapun strategi nasional penurunan stunting bertujuan untuk menurunkan prevalensi stunting menjadi 14 persen di 2024 mendatang.
Di antaranya, meningkatkan kualitas penyerapan kehidupan berkeluarga, menjamin pemenuhan asupan gizi, memperbaiki pola asih, meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan, meningkatkan akses air minum dan sanitasi. Dengan kelompok sasaran remaja, calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, dan anak usia 0 sampai 29 bulan.
Angka stunting di Bontang saat ini 19,73 persen, namun Pemkot Bontang optimis dapat mencapai 14 persen di tahun 2024. “Tentunya dengan mengerahkan seluruh sektor yang terkait untuk menangani bersama secara convergent dan terintegrasi,” harapnya.
Langkah-langkah Pemkot Bontang dalam upaya percepatan penurunan stunting, yakni mempertajam kegiatan yang langsung pada kelompok sasaran, mempersiapkan data ganta terintegrasi by name by adress berbasis geospasial untuk mempermudah dalam melaksanakan penapisan, pendampingan, dan audit kasus stunting. Membentuk tim pendamping keluarga di masing-masing kelurahan, peningkatan pelayanan kesehatan sesuai standar minimal, peningkatan partisipasi dan kesadaran masyarakat dalam gerakan masyarakat hidup sehat (Germas).
Hingga peningkatan ketersediaan pangan berbasis sumber daya lokal yang berkualitas, beragam, dan terjangkau. Percepatan open defecation free stop (penghentian bebas buang air besar di tempat terbuka), seperti buang air besar sembarangan, peningkatan kualitas air bersih, peningkatan sarana dan prasarana air bersih atau air minum, dan peningkatan perlindungan perempuan dan anak.
Bontang memiliki Kader Pembantu Pembina Keluarga Berencana Kelurahan (PPKBK) dan Sub PPKBK sebanyak 514 orang, Kader Posyandu 734 orang, Kader Gizi 734 orang, Kader Perilaku Hidup Bersih, dan Sehat (PHBS) 497 orang, Bina Keluarga Balita 39 kelompok, dan 4 Kampung KB.
“Sesuai surat keputusan Wali Kota Bontang nomor 188.45/287/Bapelitbang/2021 bahwa Kelurahan Berbas Pantai sebagai lokasi pencontohan dalam pencegahan dan penurunan stunting,” papar Najirah.
Sementara itu, Hasto Wardoyo menjelaskan bahwa kategori stunting diukur dari tinggi badan yang pendek, namun pendek belum tentu stunting. Adapun kelemahan orang stunting ada tiga; tidak tinggi, orang stunting daya tangkapnya lebih rendah ketimbang yang rata-rata sehingga prestasi akademiknya sedikit lebih rendah dari yang lain. Kelemahan ketiga, orang stunting jika usia 45 tahun ke atas mudah sakit atau tidak produktif.
“Biasanya karena dia pendek, masa kecilnya kurang gizi. Akhirnya jadi pendek dan gendut, istilahnya central obesitas. Kemudian mudah kena penyakit tekanan darah tinggi, stroke, serangan jantung, dan sebetulnya tulangnya agak lebih keropos dibandingkan yang tidak stunting. Maka stunting harus dicegah,” terangnya.
Mantan Bupati Kulon Progo itu berharap program meningkatkan kualitas SDM ini ditandai dengan membebaskan stunting. Stunting pun dapat disponsori oleh perusahaan-perusahaan. Karena perusahaan-perusahaan harus punya sense of crisis Corporate Social Responsibility (CSR) untuk meningkatkan SDM di Bontang. Ia percaya bahwa Bontang ini memiliki ikan yang banyak sehingga angka stunting dapat cepat turun dengan rajin mengkonsumsi ikan.
Dia juga menyambut baik peluncuran pencegahan perkawinan usia dini. Semestinya perempuan jika belum berusia 20 tahun, organ tubuhnya belum maksimal terbentuk, pun dengan laki-laki. Perempuan berusia 16 – 17 tahun, ternyata diameter pinggulnya belum sampai 10 sentimeter. Sementara Tuhan menciptakan kepala bayi berdiameter antara 9,99, 9,98, atau 9,97. Kalaupun diameter kepala bayi kurang dari 9,6 juga terlalu kecil, diameter kepala bayi tidak boleh lebih dari 10 sentimeter. “Bisa dibuktikan, kalau lebih dari 10 senti, pasti ada penyakit, ada masalah di kepalanya namanya hidrosepalus, kepalanya besar,” tandasnya. (Adv)







