Sosok sang ayah punya kesan mendalam bagi Viko Januardhy, Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kaltim. Dari sang ayah, lahir kecintaan pada ilmu politik yang menjadi dunianya saat ini. Dia pun mengikuti jejak sang ayah menjadi seorang pengajar, hingga kini Komisioner KPU Kaltim.
LUKMAN MAULANA, Samarinda
Diakui Viko, salah satu alasan mendaftar seleksi anggota KPU Kaltim adalah untuk melanjutkan perjuangan sang ayah, Noorsyamsu Agang. Sang ayah merupakan Ketua KPU Kaltim pertama yang bertugas dari tahun 2003 hingga 2004. Lewat kiprahnya di KPU Kaltim saat ini, Viko ingin melanjutkan perjuangan sang ayah yang tidak sempat menyelesaikan masa jabatannya.
“Ayah adalah idola dan inspirasi saya. Dari beliau saya mengenal ilmu politik. Di rumah banyak buku-buku tentang politik yang membuat saya tertarik belajar ilmu politik,” ujar Viko saat ditemui Metro Samarinda (Kaltim Post Group) di ruangannya, Rabu (19/4) lalu.
Di akhir tahun 2013, Viko ikut mendaftar dalam seleksi penerimaan komisioner KPU Kaltim. Ada beberapa sebab yang melatarbelakanginya ingin ikut terlibat di lembaga penyelenggara pemilu ini. Pertama, sebagai seorang akademisi dia ingin mengaplikasikan ilmu-ilmu yang dipelajarinya semasa kuliah. Apalagi ada beberapa mata kuliah yang berhubungan dengan pemilu. Kedua, ingin meneruskan kiprah sang ayah yang merupakan Ketua KPU Kaltim pertama
“Motivasi utama saya untuk mengabdi pada masyarakat. Yaitu pengaplikasian teori yang di peroleh di kampus untuk diterapkan pada lembaga dan sistem yang ada. Minimal bisa memberikan warna, maksimal bisa melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Misalnya lewat kebijakan, peran, atau inisiatif-inisiatif program,” jelas anak ketiga dari lima bersaudara ini.
Menariknya dalam pendaftaran seleksi, Viko menjadi pendaftar terakhir. Dia mendaftar di hari terakhir, dalam menit-menit terakhir pula menjelang penutupan pukul 16.00 Wita. Tak dinyana, Viko berhasil melewati tahapan seleksi KPU dengan baik, mulai dari 20 besar, 10 besar, hingga akhirnya terpilih sebagai salah satu dari 5 komisioner KPU Kaltim.
“Saya waktu itu tidak terlalu berambisi. Mengalir saja. Kalau diterima Alhamdulillah, kalau tidak juga tidak apa-apa. Ternyata saya dipercaya menjadi komisioner. Saat dilantik awal tahun 2014 usia saya 33 tahun menjadi komisioner provinsi yang termuda di Indonesia kala itu,” terang Viko.
Belum pernah memiliki pengalaman tentang kepemiluan membuat Viko mesti kerja ekstra saat baru dilantik. Apalagi dia dipilih menjadi Divisi Hukum dan Pengawasan yang lebih berkaitan dengan peraturan hukum kepemiluan sementara basic-nya di kampus tentang teori politik. Sehingga dia menyebut hari-hari pertama di KPU sebagai saat-saat terberat. Siang malam membaca dan mempelajari berbagai undang-undang dan peraturan terkait teknis dan hukum kepemiluan.
“Apalagi saat itu kami langsung dihadapkan pada Pemilu 2014 dan tugas membentuk KPU di daerah-daerah kabupaten/kota. Alhamdulillah berkat kerja sama kolektif para komisioner dan bantuan dari teman-teman di sekretariat, kami bisa melakukannya. Pemilu 2014 bisa berlangsung sukses,” bebernya.
Suka dan duka telah banyak dirasakan Viko dalam mengemban tugas penyelenggara pemilu. Sukanya, dia bisa mendapatkan banyak pengetahuan dan juga pengalaman baru serta bekerja dalam kolektif kolegial bersama komisioner lain. Pengetahuan baru ini misalnya terkait teknis-teknis penyelenggaraan pemilu yang menurutnya relatif berbeda dengan apa yang diajarkan di kampus.
Pun begitu dengan pengalaman mengawal pemilu yang begitu meninggalkan kesan. Pengalaman yang paling berkesan ketika melaksanakan pemilu kepala daerah (pilkada) di Kabupaten Mahakam Ulu tahun 2015. Dalam pilkada itu, Viko mesti mengunjungi kecamatan Long Apari yang terletak di perbatasan dengan Malaysia yang masih tertinggal dibandingkan daerah-daerah lain di Kaltim.
“Secara geografis lokasinya jauh, transportasinya sulit dan juga mahal. Daerahnya masih begitu alami, dengan nuansa adat istiadat yang begitu kental. Masih belum banyak pembangunan di sana. Jaringan internet dan sinyal telepon nyaris tidak ada,” beber pria kelahiran Samarinda, 36 tahun lalu ini.
Dengan kondisi keterbatasan tersebut, Viko mengumpamakan pelaksanaan pilkada di sana ibarat pemilu pertama RI tahun 1955. Namun walaupun terselenggara di tengah keterbatasan, kabupaten yang baru dimekarkan tersebut mencatatkan angka partisipasi tertinggi di Kaltim. Yaitu mencapai 77 persen, nyaris mencapai target yang dicanangkan KPU RI tahun 2015 sebesar 77,5 persen.
Sebagai penyelenggara pemilu, Viko mesti paham dengan tugas yang diembannya. Dia mesti siap 24 jam kapanpun dibutuhkan terkait pelaksanaan pemilu. “Misalnya tengah malam ditelepon wartawan yang bertanya tentang pemilu. Walaupun sudah lelah, namun sudah kewajiban kami untuk menjelaskan tentang pemilu,” sebut Viko.
Ditanya pendapat tentang proses pemilu di Indonesia, Viko rupanya telah mengamati jalannya pemilu sejak Pemilu 1999 hingga sekarang. Dia juga mengamati peran KPU sejak pertama kali dibentuk tahun 2003. Menurutnya selama pemilu digelar di era reformasi, banyak terjadi perubahan regulasi terkait kepemiluan. Misalnya dari yang awalnya pemilu di setiap daerah digelar secara sporadis, kini digelar secara serentak.
“Banyak aturan yang berubah-ubah. Perubahan inilah yang membuat kami mesti bisa bergerak cepat untuk mempelajarinya,” kata dia.
Menurutnya, pelaksanaan pemilu di Kaltim sudah terbilang bagus. Hal ini bisa dilihat dari beberapa indikator kesuksesan pemilu. Pertama, tingkat partisipasi masyarakat di Kaltim relatif tinggi. Pelaksanaannya pun berlangsung aman dan tertib. Dalam hal ini, pihak-pihak penyelenggara pemilu telah bertindak adil. Para kontestan dalam pemilu, khususnya pemilu kepala daerah juga berkualitas. Mereka siap menang dan siap menerima kekalahan.
“Masyarakat juga antusias dalam mengikuti proses pemilu dengan damai dan tidak anarkis. Makanya Kaltim mendapat predikat tertinggi ketiga di Indonesia dalam hal Indeks Demokrasi di tahun 2016,” ungkap pria yang pernah mendapat KNPI Award 2013 untuk kategori pemuda berprestasi ini.
Prinsip hidup Viko sendiri terbilang sederhana. Dia ingin bisa berbuat yang terbaik bagi agama, bangsa, negara, masyarakat, keluarga, dan diri sendiri. Karena menurut Viko, bisa bermanfaat bagi orang lain merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri bagi batinnya. “Kalau bisa memberikan manfaat, tidur terasa nyenyak,” pungkasnya. (***)
TENTANG VIKO
Nama: Viko Januardhy, S Sos, MA
TTL: Samarinda, 23 Januari 1981
Ortu: Noorsyamsu Agang (ayah), Indah Eliana (ibu)
Pendidikan:
– S1 Ilmu Administrasi Negara FISIP Unmul Samarinda
– S2 Politik Lokal dan Otonomi Daerah UGM Yogyakarta







