• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Breaking News

Lima Tahun Jadi Tak Berarti

by BontangPost
16 Juni 2018, 10:03
in Breaking News
Reading Time: 3 mins read
0
PENCEGAHAN: Ketua Panwaslu Bontang, Agus Susanto dalam sosialisasi pengawasan partisipatif. Dalam mencegah praktik politik uang, Panwaslu menerapkan pola pengawasan partisipatif yang melibatkan masyarakat.(FAHMI/BONTANG POST)

PENCEGAHAN: Ketua Panwaslu Bontang, Agus Susanto dalam sosialisasi pengawasan partisipatif. Dalam mencegah praktik politik uang, Panwaslu menerapkan pola pengawasan partisipatif yang melibatkan masyarakat.(FAHMI/BONTANG POST)

Share on FacebookShare on Twitter

KETUA Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bontang Suardi mengatakan, potensi politik uang bisa terjadi di mana-mana bukan hanya di Kaltim. Untuk itu selaku penyelenggara pemilu, KPU berharap jangan sampai terjadi politik uang dalam masa kampanye pilgub maupun Pemilu 2019 mendatang. Menurut dia, praktik politik uang merusak proses demokrasi bangsa.

“Politik uang itu merusak. Seharusnya memilih karena menganggap paslon yang dipilih memang pantas untuk dipilih. Agar membawa masyarakat ke arah yang lebih baik. Tapi ketika orang memilih karena uang, maka dia akan mengesampingkan hal itu,” jelasnya.

Dengan begitu, urai Suardi, lima tahun ke depan akan menjadi tidak ada artinya bagi mereka yang memilih atas pertimbangan uang. Karena sang pemilih sudah mendapatkan ganjarannya terlebih dulu berupa uang yang akan habis seketika. Bila hal ini jamak terjadi, maka akan sulit mengharapkan terciptanya pemerintahan yang lebih baik.

“Jadi  kami berharap itu (politik uang, Red.) jangan sampai menjadi dasar bagi pemilih untuk kemudian memberikan hak pilihnya,” tutur Suardi.

Menurut dia, seharusnya warga menggunakan hak pilih dengan melihat program masing-masing paslon. Di antaranya dengan menelusuri rekam jejaknya seperti apa selama ini. Terutama program dan visi misi yang ditawarkan semasa kampanye, terkait apa saja yang akan dilakukan ketika terpilih. “Itulah yang harusnya jadi patokan,” tegasnya.

Baca Juga:  Pungut Suara, Besok Libur Serentak

Bicara politik uang, menurut Suardi merupakan hal yang rumit. Berdasarkan informasi dan penuturan orang, praktik tersebut ada di tengah masyarakat. Namun begitu sulit dalam pembuktiannya. Tetapi dengan regulasi sekarang yang semakin ketat, dia berharap para pengawas pemilu di antaranya Panwaslu bisa semakin maksimal dalam mengawasi dan menindak setiap pelanggaran yang ada.

“Politik uang ini tidak ada yang bisa diproses, tapi orang selalu cerita kalau itu ada. Sehingga kata orang-orang di Panwaslu, politik uang itu seperti buang angin, ada baunya tapi tidak bisa dilihat,” sebut Suardi.

Ketua Panwaslu Bontang Agus Susanto menyebut, semakin banyaknya aturan dan sanksi pelanggaran bisa semakin menekan ongkos politik yang dikeluarkan. Sehingga ketika nantinya mereka terpilih, tidak berpikir lagi untuk korupsi. Karena dengan semakin banyak ongkos politik yang dikeluarkan, akan berpikir bagaimana mengembalikannya kelak.

“Dengan tidak menggunakan politik uang, ongkos politik bisa ditekan. Sehingga calon bisa lebih pada menawarkan visi dan misi,” ungkapnya.

Baca Juga:  Polling Pilgub Kaltim 2018, Rusmadi Geser Rita di Bursa Gubernur

Sementara dalam proses kampanye yang tengah berjalan saat ini, Panwaslu beserta jajarannya masih belum menemukan adanya dugaan politik uang. Namun sudah ada beberapa laporan dan temuan, di antaranya terkait keterlibatan aparatur sipil negara (ASN) serta adanya kampanye di luar jadwal.

“Jumlah pengawas yang kami miliki terbatas. Karena itu kami selalu mengampanyekan pengawasan partisipatif yang melibatkan semua pihak,” tandas Agus.

Prof Sarosa Hamungpranoto, pengamat hukum dan sosial politik Universitas Mulawarman menuturkan, dalam kondisi saat ini politik uang diperkirakan masih akan laku “menjerat” para pemilih. Hal ini disebabkan masyarakat telah terpola dari kebiasaan yang lalu setiap kali pemilu. Hal ini bisa dilihat dari masih adanya warga yang menanyakannya ketika kampanye bergulir.

“Ini sangat berbahaya. Kebiasaan ini mestinya sudah harus hilang,” ujar guru besar Fakultas Hukum Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda ini.

Kata Sarosa, politik uang paling rawan terjadi dalam momen pemilu, termasuk pilgub. Hal ini sulit dihindari mengingat paslon maupun parpol pasti akan berusaha mendapatkan suara sebanyak-banyaknya. Cara yang paling gampang di antaranya dengan “serangan fajar” dan sejenisnya.

Baca Juga:  APK Resmi Baru Diterima 20 Persen

Bila praktik seperti ini diteruskan, akan membahayakan pendidikan politik masyarakat ke depannya. Karena masyarakat sudah tidak objektif dalam menentukan pilihan. Bukan karena figur-figur, visi-misi, atau program-program kerjanya, melainkan memilih karena uangnya.

“Masyarakat sudah diarahkan ke pemikiran yang tidak objektif, untuk hal-hal berkaitan materi,” tutur Sarosa. “Ini berbahaya apalagi kalau dilakukan kepada pemilih pemula, anak-anak muda yang baru pertama kali memilih. Ini akan jadi racun, demokrasi akan terganggu,” sambungnya.

Pekerjaan rumah yang mesti dilakukan saat ini menurut Sarosa, yaitu bagaimana membawa pemikiran masyarakat menjadi objektif dan lebih rasional. Jangan karena masalah uang, sehingga mempengaruhi sikap dari masyarakat itu sendiri. Karena sikap masyarakat itu akan berubah bila ada sesuatu yang memang dianggap menguntungkan.

Untuk itu dia menyebut, masing-masing pihak harus menyadari dan menganggap politik uang sebagai masalah yang serius. Termasuk dari paslon dan partai politik yang mengusung agar jangan sekadar berlomba-lomba memburu suara, melainkan juga harus memiliki tanggung jawab. “Artinya jangan sampai merusak sikap dan perilaku masyarakat dengan melakukan politik uang,” jelas Sarosa. (luk)

Print Friendly, PDF & Email
Tags: Money Politikpilgub kaltim 2018
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Politik Uang Mengancam, Sanksi Disiapkan

Next Post

60 Persen Masyarakat Masih Berharap

Related Posts

Bawaslu Bontang Antisipasi Politik Uang Modus Angpau Natal
Bontang

Bawaslu Bontang Antisipasi Politik Uang Modus Angpau Natal

25 Desember 2023, 13:45
Sofyan dan Jaang Tidak Hadiri Penetapan Gubernur Kaltim Terpilih
Breaking News

Sofyan dan Jaang Tidak Hadiri Penetapan Gubernur Kaltim Terpilih

25 Juli 2018, 11:36
Ditetapkan Jadi Gubernur, Isran Santai
Breaking News

Ditetapkan Jadi Gubernur, Isran Santai

25 Juli 2018, 11:35
Golkar Yakin Bisa Move On 
Kaltim

Golkar Yakin Bisa Move On 

25 Juli 2018, 11:34
Legawa, Rusmadi-Isran Bertemu
Breaking News

Legawa, Rusmadi-Isran Bertemu

11 Juli 2018, 11:35
Proses Rekapitulasi Suara Dijaga Ketat Ratusan Personel Kepolisian
Breaking News

Proses Rekapitulasi Suara Dijaga Ketat Ratusan Personel Kepolisian

9 Juli 2018, 11:37

Terpopuler

  • Modus Bujuk Rayu hingga Pemaksaan, Residivis Pelecehan Anak di Bontang Utara Akui Ada 4 Korban

    Modus Bujuk Rayu hingga Pemaksaan, Residivis Pelecehan Anak di Bontang Utara Akui Ada 4 Korban

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Residivis Kekerasan Seksual Anak di Bontang Kembali Berulah, 4 Orang Diduga Jadi Korban

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Satpolairud Polres Bontang Bongkar Jaringan Sabu di Tanjung Laut Indah, Tiga Orang Diringkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Polisi Ringkus Perempuan di Jalan Parikesit Bontang, Sabu Disembunyikan dalam Dompet

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sekolah Swasta Bontang Tolak Penambahan Kelas di SMA 1 dan 2, Guru Terancam Menganggur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.