• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Feature

Divonis Idap Kanker Payudara Stadium Empat, Biaya Pengobatan Berharap Uluran Tangan Sahabat

by BontangPost
15 November 2018, 15:40
in Feature
Reading Time: 3 mins read
0
KANKER: Agustania terbaring lemah di atas kasur. Perempuan beranak satu ini sudah tujuh bulan tak bisa berjalan karena lumpuh. Penyakit kanker payudaranya sudah stadium empat. Dia telah lama ingin dioperasi. Tetapi terhalang karena keterbatasan biaya.(MUBIN/METRO SAMARINDA)

KANKER: Agustania terbaring lemah di atas kasur. Perempuan beranak satu ini sudah tujuh bulan tak bisa berjalan karena lumpuh. Penyakit kanker payudaranya sudah stadium empat. Dia telah lama ingin dioperasi. Tetapi terhalang karena keterbatasan biaya.(MUBIN/METRO SAMARINDA)

Share on FacebookShare on Twitter

Selama tujuh bulan, Agustania (39), terbaring kaku di atas kasur kecil di rumahnya yang berlokasi di Gang PS Mandapa, Desa Jembayan, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Penyakit itu efek lanjutan dari kanker payudara yang dideritanya sejak 2017 lalu.

UFQIL MUBIN, Samarinda

RABU (14/11) kemarin, Metro Samarinda berkesempatan melihat perempuan yang terbujur kaku itu di rumahnya yang jaraknya 300 meter dari kantor Desa Jembayan. Tubuhnya tak dapat bergerak karena seluruh tulangnya terasa sakit.

Hanya senyum kecil dan pandangan kosong yang nampak di raut wajahnya. Di bagian payudara kanannya, ada luka besar. Berwarna kemerah-merahan. Dulu, payudaranya berlubang. Menganga hingga dapat dimasukkan jari-jari tangan.

Dia didampingi saudara kandungnya, Ardiah (47). Perempuan yang acap menyuapkannya makanan, obat-obatan, mendampinginya mandi, hingga buang air besar dan kecil. Sudah dua tahun ini, dia hilir mudik memastikan adiknya dapat bertahan hidup di pembaringan.

Dengan mata berkaca, pada media ini dia berkisah, Agustania tinggal di rumah dengan tiga kamar bersama 11 anggota keluarga. Dulu, perempuan yang pernah dua kali menikah itu tinggal bersama anak dan suaminya.

Seiring berjalannya waktu, suami keduanya meninggalkannya sejak dia terserang kanker payudara. Sementara anaknya, NW (22), tinggal bersama suaminya.

Baca Juga:  Masuk DPO, Wanita Muda Ditangkap di Pelabuhan Semayang

“NW itu anak dari suami pertamanya. Nama suaminya dulu Firdaus. Meninggal tahun 1999. Setelah itu dia menikah lagi,” ungkapnya.

Agustania lahir sebagai anak ketiga. Ardiah adalah anak kedua. Sementara saudara yang lainnya, ada Lisnawati, Irnawati, dan Fitriani. Lima bersaudara itu semuanya perempuan.

“Kami yang bantu rawat dia. Kadang ada juga sepupu dan teman-teman dia yang bantu untuk beli obat,” sebutnya.

Hidup keluarga itu terbilang penuh getir. Ibu kandungnya yang tinggal tak jauh dari rumah Agustania, terserang penyakit lumpuh. Sementara sang ayah, bekerja sebagai penjaga masjid.

Ketika masih tinggal bersama suami keduanya, Agustania sehari-hari sebagai ibu rumah tangga. Suaminya bekerja di tambang batu bara. Di tangan laki-laki itu, segala kebutuhan hidupnya terpenuhi. Kini, dia tak berdaya. Suaminya menikah lagi semenjak dia tak dapat berjalan karena lumpuh.

Kartu jaminan kesehatan tak punya. Sehingga sulit mendapatkan pelayanan gratis dari program pemerintah. Ardiah menyebut, suami Agustania pernah memiliki kartu BPJS Kesehatan. Namun terputus seiring laki-laki yang kini telah memiliki istri muda itu tak lagi bekerja di tambang batu bara di Kecamatan Loa Kulu.

Tahun lalu, benjolan sebesar ibu jari orang dewasa muncul di payudara bagian kanan Agustania. Keluarga berusaha menyembuhkannya. Membawa perempuan malang itu ke Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Loa Kulu.

Baca Juga:  Angka Pengangguran Diklaim Turun 

“Di Puskesmas, dikasih rujuk. Tiga kali ke sana. Disuruh operasi. Dia enggak mau operasi karena enggak ada biaya. Setelah itu, kami memilih berobat di kampung,” ucapnya.

Sebulan berlalu, penyakit menggerogoti tubuh Agustania. Benjolan membesar layaknya telur kampung. Melihat itu, keluarga berinisiatif mengobatinya dengan obat kampung.

“Pernah dikasih air untuk diminum. Sekalinya benjolan itu pecah. Terus ada lubang besar di situ. Bolong besar di payudaranya. Karena sudah besar, waktu itu mau dioperasi. Tetapi besoknya dia lumpuh. Enggak bisa jalan. Mulai lumpuhnya Februari 2018,” jelasnya.

Beberapa bulan berlalu, di payudara yang kanker itu membentuk lubang menganga. Sehingga bagian dalam tubuhnya dapat dilihat dengan mata telanjang. Pun demikian, tangan orang dewasa bisa memegang bagian terdalam dari tubuh perempuan yang bertubuh ringkih itu.

Ardiah menyebut, di awal tahun ini, kanker itu sempat mengeluarkan bau menyengat. Tetangga dapat mencium aroma tidak sedap dari penyakit yang dialami Agustania. Seluruh anggota keluarga merujuknya ke klinik terdekat. Dokter memberinya bubuk yang dapat ditaburi di sekitar lubang sebesar piring itu. Tak lama, bau itu mulai menghilang.

Baca Juga:  Menelusuri Sisi Lain dari Lombok, NTB (1); Membangun Daerah dengan Hasil Pertanian

“Kami kasih tablet untuk minum. Untuk penahan nyeri. Dulu pernah berobat herbal dan alternatif. Dia juga minum air kunyit,” katanya.

Setiap tiga hari sekali, Ardiah harus menebus obat di klinik. Biaya yang dikeluarkan sekira Rp 150 ribu. Uang itu didapatkan dari saudara, keluarga, dan teman-teman Agustania.

“Itupun terasa berat. Kami pengin bawa ke rumah sakit. Tetapi uangnya enggak cukup. Untuk beli obat setiap tiga hari sekali saja harus kumpulkan uang dulu,” ucapnya.

Setelah dikasih obat secara rutin, lubang di payudara perempuan itu kian membaik. Namun tidak berarti rasa sakit di tubuhnya hilang.

“Dia susah tidur. Bernapas susah. Makan enggak terlalu banyak. Kalau banyak makan, sulit bernapas. Tidurnya kurang. Kadang enggak bisa tidur. Kalau kencing harus dibantu. Tangannya bengkak. Tangan kanannya itu yang lumpuh,” tuturnya.

Pemerintah di tingkat desa, kecamatan, dan kabupaten, belum ada satupun yang mengambil langkah atas kanker payudara stadium empat yang dialami perempuan berkulit putih itu.

“Saya berharap pemerintah ikut membantu kami. Supaya adik saya bisa berobat di rumah sakit. Agar bisa sembuh,” harapnya. (**)

Tags: kisah inspiratifMetro Samarinda
Share24TweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Bonus Atlet Porprov Ditaksir Miliaran

Next Post

Waspada Dini Bencana Alam, BPBD Siagakan Alat Deteksi Longsor 

Related Posts

Kisah Hainun dan Gaharu “Ajaib” dari Bontang; Dulu Hanya Ilalang, Kini Jadi Produk Ekspor
Feature

Kisah Hainun dan Gaharu “Ajaib” dari Bontang; Dulu Hanya Ilalang, Kini Jadi Produk Ekspor

13 Juli 2025, 12:07
Kisah Inspiratif Kakek Penjual Sapu Lidi: Selama Kuat, Bekerjalah
Ragam

Kisah Inspiratif Kakek Penjual Sapu Lidi: Selama Kuat, Bekerjalah

18 Desember 2020, 09:19
Di Palu, Kebaikan Menular dari Secangkir Kopi Gratis
Feature

Di Palu, Kebaikan Menular dari Secangkir Kopi Gratis

11 Januari 2019, 15:40
Kontrak LNG Habis, Isran: Tak Masalah
Kaltim

Kontrak LNG Habis, Isran: Tak Masalah

23 Desember 2018, 16:30
Bisnis Hotel Diprediksi Terus Tumbuh 
Kaltim

Bisnis Hotel Diprediksi Terus Tumbuh 

22 Desember 2018, 16:30
Pemprov Ingin Pembangunan Masjid Tetap Dilanjutkan, Kinibalu Bakal Dicarikan Pengganti 
Kaltim

Pekerja Berhak Atas Jaminan Sosial

22 Desember 2018, 16:10

Terpopuler

  • Kabar Jasad Bayi Ditukar Bantal Gegerkan Warga Bontang, Polisi Lakukan Penelusuran

    Kabar Jasad Bayi Ditukar Bantal Gegerkan Warga Bontang, Polisi Lakukan Penelusuran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jalan yang Dibangun dengan APBD Rp13 Miliar Ditutup Seng, Warga Kampung Gotong Royong Bontang Terdampak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pengakuan Pimpinan Ponpes di Bontang Selatan Terkait Laporan Pelecehan Seksual; Mencuat Sejak 2024, Korban Trauma Berat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Fogging Berbayar Muncul di Bontang, Warga Ditagih Rp50 Ribu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Polisi Selidiki Dugaan Kekerasan Seksual di Ponpes Bontang, Korban Disebut Lebih dari Lima Orang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.